Loading

Rabu, 31 Desember 2014

Undian Yang Menjebak

Hadiah undian selalu menarik siapa saja. Apalagi jika hadiah yang ditawarkan jumlahnya sangat besar bisa menggoda siapa saja. Trik-trik semacam ini banyak dipakai oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Jangan mudah percaya dan tertarik dengan undian yang menawarkan hadiah menggoda dengan penyelenggara tidak jelas. Walaupun iklan  undian tersebut memakai  media-media besar yang cukup dikenal seantero negeri.

Suatu sore pulang kerja suami membawa tabloid NOVA. Siapa yang tidak kenal dengan tabloid yang satu ini terutama untuk kalangan wanita. Karena tabloid NOVA dikhususkan untuk para pembaca wanita. Reputasi dari NOVA juga sudah tidak perlu diragukan lagi. Inilah yang membuat saya dan suami yakin  dengan iklan undian berhadiah yang terpampang disana. Dalam salah satu halaman di tabloid tersebut terpampang iklan undian dengan hadiah sebuah mobil Honda CRV terbaru seharga  Rp 399.000.000.

Sumber caption : Tabloid Nova


Untuk bisa mengikuti undian tersebut caranya begini : " Ambil dua angka terakhir pada tahun kelahiran anda, lalu tambahkan dengan umur anda pada tahun 2014 ini, jika anda mendapatkan angka 114 "SELAMAT" !, kirimkan jawaban anda. Perhatian ! Jika anda ingin mendapatkan kesempatan untuk meraih hadiah utama dalam 10 hari. Segera isi dan kirimkan kupon kembali kepada kami sekarang juga !


Contohnya begini : Usia suami 52 tahun kelahirannya 1962, jika dua angka terakhir yaitu 52 + 62 = 114. Hasil 114 menunjukkan bahwa peluangnya untuk mendapatkan hadiah tersebut cukup besar. Kami tidak berpikir bahwa secara universal semua orang ketika menjumlahkan umur dan tahun kelahirannya akan mendapatkan hasil 114. Perhitungan seperti ini kami coba pada tahun kelahiran putra sulung yang berusia 18 tahun dengan kelahiran 1996 jika dua angka terakhirnya dijumlahkan maka akan menghasilkan 114 pula. ( hitungan untuk usia si sulung kami coba hitung setelah mengirimkan kupon ).
Berbekal keyakinan bahwa hanya sedikit dari masyarakat yang memiliki jumlah kelahiran 114 sesuai dengan plat nomor 114 yang ada di mobil CRV tersebut maka melayanglah kupon tersebut ke PO. BOX 6600. 

Kurang lebih tiga minggu kemudian datanglah pak pos dengan mengantarkan ini : 

Dok. pribadi
Saat membuka isi amplop tersebut entah mengapa saya masih diliputi keraguan, apakah benar dengan isi pemberitahuan tersebut. Yang membuat keraguan bertambah ada kewajiban dari peserta untuk membeli sejumlah produk dengan nilai total pembelian  Rp 700.000. Produk-produk bisa dipilih melalui katalog yang tersedia, begini cara pembayarannya :



Disamping hadiah utama,  juga masih bisa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh bonus cek  sebesar Rp 100.000.000


Masih juga ada tambahan  hadiah istimewa berupa lemari es mewah secara gratis senilai Rp 30.000.000


Dengan sederet hadiah istimewa seperti itu siapa yang tidak tergoda apalagi media partner yang dipakainya adalah sejumlah media nasional yang cukup terkemuka.


Tidak ingin terjebak dengan berbagai modus penipuan yang marak terjadi dan  dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Saya mencoba browsing untuk mendapatkan berbagai informasi terutama pihak penyelenggara dalam hal ini PT. Gema Loka Optima. Saya meragukan pihak penyelenggara karena PT. Gema Loka Optima tidak mencantumkan alamat hanya memberikan alamat PO. Box dan nomor telpon yang bisa jadi nomor telpon siapa saja. 

Hasil penelusuran internet banyak pihak yang sudah merasa terjebak/tertipu oleh undian ini. Ada yang sudah menstransfer sejumlah uang untuk membeli produk tetapi barang yang dipesan tidak pernah sampai pada pemesan. Dari sinilah kami memutuskan untuk tidak meneruskan mengirim kupon tersebut dan memilih membiarkan  Honda CRV terbaru melayang

Ini salah satu alamat yang saya temukan : http://ptgemalokaoptimapenipu.blogspot.com/2014/10/pemenang-undian-pt-gema-loka-optima.html#comment-form

Sedikit himbauan sebaiknya tetap berhati-hati dan waspada menghadapi berbagai undian.  Ada baiknya untuk melakukan cek dan ricek apakah ada izin resmi dari pemerintah. Karena menurut informasi yang saya peroleh setiap kegiatan yang berupa undian berhadiah,  dilakukan oleh siapapun juga wajib hukumnya untuk mencantumkan nomor izin tersebut dan diumumkan pada khalayak.

Postingan awal tahun 2015 semoga bermanfaat untuk para pembaca. Meninggalkan tahun 2014 untuk menyongsong tahun baru dengan lebih baik dan tetap waspada. 

" HAPPY NEW YEAR 2015 "

Jumat, 26 Desember 2014

Terorisme Bisa Mengincar Siapa Saja

" Biasanya lihat penangkapan teroris lewat televisi tapi kali ini didepan mata kelapa sendiri, aduh.......ngeri " status BBM keponakan yang saya baca malam itu. Ikut panik dan ngeri juga khawatir dengan keselamatan keluarga yang ada disana. Saya coba kontak  balik dia lewat BBM.
" Lia, penangkapan terorisnya dimana ?"
" Disamping rumah, tante "
" Samping kanan atau kiri ? "
" Samping kanan, tante "
Saya ceritakan pada suami apa yang tengah terjadi saat itu di Solo, dimana sebelah rumah kami tengah menjadi sasaran penggerebekan Densus 88. 
" Lia, bagaimana sekarang keadaannya ? "
" Alhamdulillah semuanya sudah beres, tante. Cuma kaget saja waktu ditemukan ada bom, samurai dan benda-benda tajam dari dalam rumah ". 
Kami bersyukur Densus 88 cepat menemukan barang-barang berbahaya dari dalam rumah yang dicurigai, tidak terbayangkan seandainya bom itu meledak dan melukai orang-orang yang kami sayangi. Apalagi dinding rumah yang di gerebek dengan dinding rumah kami saling menempel. Terbayang kan bagaimana hancurnya jika bom  itu meledak sempurna.
Berita penggerebekan di Makam Haji, Sukoharjo Solo beberapa hari yang lalu,  dilakukan oleh Densus 88.  Densus 88 atau dikenal juga dengan delta 88 dibuat sebagai unit kepolisian anti teror yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom sampai pada pembebasan sandera. 

Setelah kejadian tersebut, kami mengingat beberapa bulan yang lalu ketika saya dan suami pulang ke Solo dan sempat berbincang dengan bapak pemilik rumah. Suami sempat berbincang dengan beliau saat hendak sama-sama berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Awalnya agak terkejut melihat beliau sekarang jadi lebih rajin sholat di mesjid padahal sebelumnya (maaf) hampir tidak pernah. 
" Usaha saya sedang hancur Pak, sekarang saya tengah memperdalam ilmu agama " demikian yang diucapkannya saat itu.
Setahu saya beliau memiliki beberapa usaha diantaranya travel, percetakan dan rental kendaraan. Selama ini setiap kali kami mudik ke Solo rumahnya selalu ramai. Namun beberapa bulan yang lalu saat kami ke Solo rumah sebelah yang biasanya ramai terlihat sepi. Dari cerita bapak pemilik rumah kami baru mengetahui jika usahanya tengah mengalami kemunduran.

Apakah usahanya memperdalam ilmu agama untuk mencari ketenangan dalam rangka membangkitkan bisnisnya yang tengah bermasalah, atau memang beliau ingin meningkatkan kembali ilmu agamanya kami tidak tahu pasti. Mengejutkan setelah itu beliau menjadi target sasaran Densus 88 dan dicurigai telah menjadi anggota kelompok terorisme. Yang ada dalam pikiran saya beliau "salah mendapatkan guru" sehingga menyebabkannya terjerumus pada kegiatan terorisme. Setahu saya beliau bukan orang yang tertutup dan mengisolasi diri dari lingkungan sekitarnya. 

Kaget ! karena sewaktu ngunduh mantu keponakan, beliau mempersilakan rumahnya dipakai sebagai tempat memasak dan juga menyimpan berbagai perlengkapan pesta. Rumahnya terbuka untuk siapapun sehingga agak mengejutkan ketika kemarin mengetahui kabar jika didalam rumahnya ditemukan bom dan berbagai senjata tajam, seperti hendak berperang. Menurut keponakan pula kini rumah tersebut terlihat lebih sepi dan tertutup setelah pemiliknya diambil polisi. Sedangkan anggota keluarga yang lain tidak diketahui keberadaannya  mungkin "menyepi untuk sementara".

Walaupun sedikit mengejutkan, mungkin ini juga bisa diambil hikmahnya. Bagaimanapun kita harus tetap waspada dengan lingkungan sekitar. Jangan sampai orang-orang yang kita cintai menjadi korban dan target terorisme. 








Rabu, 24 Desember 2014

Lelaki Yang Dikirim Tuhan Untukku



Kanker masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi sebagian orang. Semua orang tahu penyakit kanker menjadi salah satu faktor penyebab kematian terbesar. Aku begitu terpukul saat mengetahui Ayah terkena kanker prostat stadium lanjut. Hanya sedikit dari mereka yang bisa lolos dari kematian karena penyakit kanker. Bayang-bayang kehilangan Ayah mulai menghantuiku. Siapa nanti yang akan menjagaku bila Ayah tiada ? Siapa nanti yang akan selalu memberi semangat jika Ayah tiada ? Siapa yang akan melindungiku setelah Ayah tiada ? Aku betul-betul merasakan dunia seakan-akan runtuh dan jalan terasa gelap gulita di hadapanku.

Ayah adalah sosok terpenting dalam hidupku. Hubungan kami begitu dekat satu sama lain. Hingga usia remaja, aku masih sering tertidur di pangkuannya. Kami punya kesukaan yang sama, yaitu menonton bola di televisi. Sering kali kami menonton bola bersama hingga dini hari sambil makan mi rebus semangkuk berdua. " Jangan lupa, nanti bangunkan Ayah jika acara bolanya sudah dimulai !". Demikian pesannya setiap kali ada pertandingan bola di televisi dari kesebelasan favorit kami berdua, yang biasanya ditayangkan lewat dini hari.

Ketika masa mudanya dulu, Ayah adalah kapten salah satu kesebelasan bola di kotaku. Tidak mengherankan Ayah sangat menyukai bola. Ayah juga tetap menjaga kesehatan fisiknya dengan rajin berolah raga diusia tuanya. Ia benar-benar disiplin menjaga kesehatan, sehingga aku begitu terkejut mengetahuinya terkena kanker prostat. Bagaimana bisa Ayah terkena kanker ? Tapi rupanya sampai sekarang dunia kedokteran masih belum mengetahui secara pasti penyebab kanker prostat sesungguhnya.

Ketika Ayah sakit, tinggal aku satu-satunya yang belum menikah. Semua saudaraku sudah berkeluarga dan memiliki keturunan, sementara aku masih sendiri. Sebagai seorang disabel , tidak mudah bagiku mencari pendamping hidup yang sesuai dengan keinginanku, yaitu tidak sama-sama disabel. Alasanku sederhana saja, " Sendiri pun sudah repot apalagi berdua ! " Aku ingin ada orang yang bisa melengkapi kekurangan fisikku dengan mendapatkan pendamping hidup yang sempurna secara fisik.

Pesimis ! Tentu saja sempat terbersit di benakku, apakah aku bisa mendapatkan pendamping hidup yang sesuai dengan keinginanku, dengan kondisi fisik tidak sempurna ? Apa ada laki-laki yang mau menerimaku sebagai pendamping hidup dan menjadi ibu bagi keturunannya kelak ? Apa ada orang tua yang rela dan mau menerima seorang disabel sebagai menantunya ?

Sejak virus polio merusak saraf-saraf ototku dan merubah seluruh garis hidupku menjadi disable, aku tersadar aku memang berbeda dengan yang lain. Kepercayaan diriku jatuh ke titik terendah. Kala itu aku tumbuh sebagai gadis kecil yang kurang percaya diri, sering menyendiri dan menutup diri. Namun, orangtua dan seluruh keluarga tidak membiarkanku hanyut dalam keputusasaan, tidak membiarkanku menangisi ketidaksempurnaan, tidak membiarkanku terus hanyut dalam kemarahan dan menyesali takdir.

Aku tidak pernah diperlakukan secara istimewa, baik dalam pola pengasuhan maupun dalam memperoleh pendidikan. Ayahlah orang yang sering memberi semangat padaku. " Nak, tidak ada yang berbeda dari dirimu.  Kamu adalah anak Ayah yang paling hebat dan kuat. Kamu pasti bisa melebihi saudara-saudaramu yang lain, karena kamu itu istimewa buat Ayah ". Kalimat Ayah yang diucapkan bagai air yang menyirami tumbuhan untuk terus membuatku tumbuh dengan penuh kepercayaan diri.

Saat aku sukses menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana, aku masih kesulitan mendapatkan jodoh. Adakalanya timbul perasaan iri melihat saudara-saudaraku begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan, memperoleh pekerjaan, dan kemudian menemukan jodohnya. Sementara aku masih saja kesulitan menggapai harapanku. Berkarier sesuai dengan ilmu yang kuperoleh dan menemukan jodoh adalah kendala utama.

" Teh, bolehkah saya menikah terlebih dahulu ? " adikku memohon izin melangkahiku. Perasaan bahagia melihat adik akan memasuki kehidupan baru bercampur dengan rasa nelangsa yang tiba-tiba menyelusup dalam relung batinku. Kapan saat itu datang padaku ? "

Ayah terus menjalani hari-harinya dengan berbagai pengobatan medis, dan aku terus berdoa memohon ada keajaiban untuk kesembuhan dan juga hadirnya jodoh untukku. Sambil merawat Ayah yang terus berupaya memperoleh kesembuhannya, aku masih punya harapan. Suatu saat aku akan dipertemukan dengan jodohku. Namun, harapan itu terasa semakin jauh saat usiaku terus merangkak, dan kondisi Ayah terus menurun. Namun, doa tidak pernah putus kupanjatkan untuk kesembuhan dan juga hadirnya seseorang yang bisa menjadi pengganti ayahku kelak jika tiba waktunya Yang Maha Pencipta memanggilnya pulang ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Doa yang tidak pernah putus kupanjatkan. Akhirnya tiba juga pada sebuah jawaban. Aku bertemu dengan seorang laki-laki di kota Solo, ketika selesai mengikuti acara musyawarah nasional organisasi penyandang disabilitas yang selama ini kuikuti. Setelah mengikuti acara, tibalah waktunya bagi kami untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Sambil menunggu bus yang akan menjemput, kami manfaatkan waktu untuk melihat-lihat kota Solo dengan becak. Sengaja kami memilih kendaraan tersebut agar bisa lebih santai dan nyaman.

" Boleh tidak berkenalan ? "
Tiba-tiba seorang laki-laki telah berdiri dihadapanku sambil mengulurkan tangannya, saat kami tiba kembali di tempat menginap. Aku tidak tahu darimana datangnya laki-laki tersebut. Sebelumnya tidak pernah kulihat dirinya, baik sebagai peserta maupun pengamat munas.

Seminggu setelah perkenalan, tiba-tiba dia sudah berada di depan pintu rumahku. Tentu saja aku kaget. Lebih kaget, dia juga minta diperkenalkan dengan Ayah saat itu juga. Dengan kening berkerut kukatakan pada Ayah.
" Yah, ada yang mau bertemu dan berkenalan dengan Ayah "
" Siapa ? "
" Teman yang baru kukenal di Solo seminggu yang lalu " jawabku
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Saat itu Ayah hanya mengatakan semua jawaban ada di tanganku, akulah yang menjawabnya. Belakangan baru kuketahui, dia langsung "meminta" diriku pada Ayah.

Allah selalu punya rencana jauh lebih sempurna daripada yang kita inginkan. Satu tahun sebelum Ayah berpulang ke rahmatullah, aku dipertemukan dengan seorang laki-laki yang kini menjadi suamiku. Tujuh bulan setelah pertemuan, kami menikah saat kondisi Ayah sudah betul-betul parah dan kanker telah menyebar kesebagian besar tubuhnya, merusak organ tubuhnya. Keinginan agar Ayah menjadi wali nikahku akhirnya kesampaian.

Dua hari menjelang pernikahanku, Ayah pulang dari rumah sakit setelah menjalani kemoterapi untuk kesekian kali. Air mata haru menetes di pipiku setelah ijab kabul selesai. Inilah jawaban dari doa-doa yang tidak pernah putus kupanjatkan selama ini. Allah menghadirkan seorang laki-laki yang memiliki fisik normal, tidak kurang sesuatu apa pun tapi dengan tulus ikhlas menerima dan mencintai diriku apa adanya. Menerima kekurangan fisikku sebagai jalannya menuju surga, demikianlah alasan suami ketika putra sulung kami bertanya pada ayahnya.
" Mengapa Bapak mau nikah sama Ibu ? Ibu kan pakai tongkat ? "
" Karena Bapak mau mendapatkan surga " demikian jawabnya.
Jawaban yang telah membuatku yakin, inilah laki-laki yang dikirim Allah untuk menjadi pengganti Ayah jika dia tiada. 

Jika sampai waktunya Allah memanggil Ayah kembali, aku sudah siap dan ikhlas melepas kepergiannya. Aku sudah tidak tahan melihat penderitaan panjangnya selama masa pengobatan.  Bersamaku kini telah Allah kirimkan seorang laki-laki yang siap menjadi pengganti Ayah, menjaga dan melindungiku.
Empat bulan setelah pernikahan kami, Ayah akhirnya berpulang untuk selam-lamanya, tepat setelah shalat Isya,  diiringi doa yang datang dari getaran hati kami, putra-putrinya. Innalillahi wa inna illlaihi rojiun, Ayah.

Maret 1995, pertama kali aku bertemu dengan suami, dan Maret 1996 Ayah berpulang ke tempat peristirahatannya yang terakhir meninggalkan kami semua. Terima kasih, Allah. Kau telah memberiku kesempatan untuk bisa menikah dan menjadikan Ayah sebagai walinya. Terima kasih Allah telah menjawab semua doaku dan memberikan yang terbaik sebagai pengganti Ayah. Terima kasih Allah telah memberiku seorang Ayah yang begitu hebat dan menggantinya dengan laki-laki yang tidak kalah hebatnya. Ampuni dosa Ayah dan lindungi kami dari gelombang pasang kehidupan. 

Tahun ini perkawinan kami memasuki usia 19 tahun. Pahit manisnya perkawinan telah kami lewati bersama, dua anak juga telah hadir mewarnai kehidupan perkawinan kami. Aku bisa bernapas lega sekarang, ternyata Ayah begitu sayang padaku sebelum Ayah dipanggil ke rahmatullah,  Allah telah menyiapkan seorang laki-laki luar biasa untuk menggantikan posisi Ayahku. Seorang laki-laki yang begitu tulus, ikhlas, dan sabar telah Allah hadirkan sebagai pendamping hidupku dan ayah bagi anak-anakku. Inikah jawaban dari semua doaku dan juga mungkin doa Ayah untukku sebelum pulang ke pangkuan-Nya.

                                                                  *******


Kisah diatas terdapat dalam buku Storycake for Your Life - Berpikir Positif, bersama Umma Azura, dkk. Dan Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Masih banyak kisah-kisah inspiratif lainnya disini.

Cover buku







Senin, 22 Desember 2014

Isyarat Rindu Mak Iah, Sang Ibu Asuh


Dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2014, keluarga besar Kumpulan Emak Blogger (KEB) mengajak para Emak anggota KEB untuk menceritakan sosok ibu diluar ibu kandung yang dekat dengan kehidupan para Emak. Sosok ibu diluar ibu kandung yang dekat dengan kehidupan saya adalah Mak Iah. Beliau pengasuh saya ketika kecil yang sudah  seperti ibu kedua selain ibu kandung tentunya. Kini Mak Iah sudah tidak ada lagi dalam kehidupan saya. Setahun yang lalu Sang Pencipta telah memanggilnya pulang kembali dalam usia 89 tahun. Namun sosok Mak Iah tidak akan pernah hilang dan selalu menjadi bagian sejarah penting dalam kehidupan saya.

Sebagai anak kesebelas dari tiga belas bersaudara ( 11 perempuan dan 2 laki-laki ), usia dua tahun saya sudah bisa berjalan. Tetapi virus polio merubah seluruh garis hidup saya menjadi seorang difabel. Kedua kaki mulai dari pinggul kebawah lumpuh dampak dari virus  tersebut.  Selama masa pengobatan panjang dan melelahkan Mak Iah hadir dalam kehidupan keluarga besar kami. Meskipun usia saya masih sangat kecil, samar-samar sudah bisa mengingat bagaimana dulu Mak Iah yang selalu menggendong kesana kemari untuk menjalani proses pengobatan. Mak Iah juga yang banyak menemani kehidupan sehari-hari saya. Sebagai seorang wirausahawan Ayah sibuk dengan pekerjaannya demikian juga ibu lebih banyak berada di toko kelontongnya. Praktis Mak Iah yang lebih banyak menemani saya di rumah. Hubungan kami sudah seperti ibu dan anak, bukan lagi terbatas pada hubungan antara pengasuh dan anak asuhnya.

Mak Iah dan keluarganya tinggal tidak jauh dari tempat tinggal saya. Hampir setiap hari saya lebih banyak bermain bersama anak-anak Mak Iah di rumahnya. Mak Iah memiliki empat orang anak, bersuamikan seorang pegawai kecil di PINDAD. Diluar jam kerjanya, Bapak ( demikian saya memanggil suami Mak Iah) membuat petasan yang selalu disimpannya di kolong tempat tidur untuk setiap petasan yang sudah selesai dibuat. Saya juga bisa merasakan kasih sayang Bapak dan anak-anak Mak Iah. Terkadang karena suatu kesalahan saya dan kemudian dimarahi orang tua, saya akan berlindung di pelukan Mak Iah. 

Setelah Bapak meninggal dunia dan anak-anaknya bisa berdiri sendiri, Mak Iah memutuskan untuk tidak ikut bersama-sama dengan kami lagi. Mak Iah dan keluarganya pindah rumah agak jauh dari tempat tinggal kami. Walaupun rumah saya dan Mak Iah berjauhan, namun secara rutin paling tidak seminggu sekali Mak Iah masih sering datang menjenguk saya. Demikian pula jika saya rindu padanya maka  akan datang menemuinya. Hingga saya menikah dan memiliki anak Mak Iah masih sering menjenguk. Saya memperkenalkan Mak Iah pada anak-anak sebagai nenek kedua.

Sampai suatu ketika dalam setiap kegiatan sehari-hari saya selalu mendengar suara orang menangis.
 " Suara tangisan seorang perempuan begitu jelas terdengar. Semakin hari suara tangisan yang terdengar semakin keras. Kucari-cari siapa yang sedang menangis dengan mengikuti arah datangnya suara. Tetapi tidak tampak seorangpun yang sedang menangis. Hampir setiap hari suara tangisan itu selalu menggema mengisi seluruh ruangan namun tidak terlihat seorangpun disana, hanya ada saya seorang. Lalu siapakah yang  sedang menangis ? mengapa suara tangisannya begitu jelas terdengar dan semakin hari semakin kencang ? "

Kuceritakan semua yang saya dengar pada suami, tentang suara tangisan  yang terasa begitu dekat sekali di telinga. " Mungkin Mak Iah sedang rindu pada Mama, nanti kita tengok bukankah sudah lama pula kita tidak menengoknya ? Dia memberi isyarat melalui suara tangisan yang mama dengar padahal tidak ada satupun disekitar mama yang sedang menangis !" ujar suami. Karena kesibukan saya dan faktor usia Mak Iah. Membuatnya sudah tidak mampu bepergian seorang diri. Inilah yang membuat rentang pertemuan saya dan Mak menjadi berkurang.


Keesokan harinya ditemani suami, saya mendatangi rumah Mak Iah. Seperti dugaannya  Mak Iah memang  sudah sangat merindukan kedatangan kami. Begitu dilihatnya saya telah berada di depannya Mak Iah langsung memeluk dalam tangisan penuh haru, pelukannya begitu hangat dan lama seolah tidak ingin melepaskannya lagi. " Hatur nuhun Gusti tos ngabulken kana pamenta abdi, nu di penta beurang peuting ayeuna tos nyampak dipayunen " ( terima kasih Allah sudah mengabulkan permintaan saya, permohonan  siang malam telah Engkau kabulkan ). Ucap Mak Iah yang membuat saya meneteskan air mata, begitu dalam rasa rindu yang dia pendam untuk saya. Ternyata benar suara tangisan yang selama ini sering saya dengar adalah sebuah isyarat rindu dari Mak Iah.  " Maafkan saya Mak, telah membuat Mak harus menunggu begitu lama untuk bisa memeluk saya ".

Kini Mak Iah telah beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya. Beliau memang bukan ibu yang mengandung dan melahirkan saya tapi kasih sayang dan perhatiannya untuk saya begitu besar dan dalam layaknya ibu kandung.  Cinta dan sayangnya  tidak bisa hilang dan terlupakan begitu saja oleh saya. Beliau akan tetap menjadi ibu untuk saya disamping ibu kandung yang telah mengandung dan melahirkan saya. Beristirahatlah dengan tenang Mak, bait-bait do'a Insya Allah akan kukirimkan untuk Mak di Surga.

Saya dan Mak Iah






Minggu, 21 Desember 2014

Buku Antologi : Hati Ibu Seluas Samudra

Buku Hati Ibu Seluas Samudra versi Hard Cover

Dulu, setiap kali melihat ibunda menangis manakala beliau merindukan kedua orang tuanya yang telah tiada, saya masih belum begitu mengerti apa arti tangisannya. Kini setelah ibunda tiada saya bisa merasakan betapa perihnya saat rindu itu datang. Rindu mendengar suaranya, rindu mendengar tawanya, rindu mencium aroma masakannya, rindu aroma harum tubuhnya. Dan segunung rindu lainnya yang tidak bisa kulepaskan setelah kepergiannya.

Penyesalan selalu datang terlambat itulah yang saya rasakan setelah kepergiannya. Penyesalan karena saya masih belum terlalu mengerti saat itu mengapa  beliau selalu minta ditemani di sisa akhir hidupnya .  Padahal sebelumnya tidak pernah beliau seperti itu,  yang saya ketahui beliau seorang ibu yang sangat mandiri. Sejak Ayahanda meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya delapan belas tahun yang lalu, tidak pernah sekalipun kudengar keluhannya. Selama masih bisa melakukan kegiatannya seorang diri beliau akan lakukan tanpa minta ditemani. Tetapi entah mengapa saat itu beliau seperti merasa "sendiri" dan "sepi".

Mungkinkah itu suatu pertanda jika saat kepulangannya akan segera tiba ? saya masih belum bisa membaca tanda-tanda itu. Sehingga  pernah terbersit rasa "kesal" karena sikapnya yang menganggap beliau lebih manja dari sebelumnya. Masih belum menyadari itu pertanda dari-NYA bahwa saat kepulangannya akan segera tiba. Penyesalan  terdalam yang saya tuliskan dalam kisah penuh haru dan air mata di buku antologi HATI IBU SELUAS SAMUDRA, sebuah persembahan Kado Istimewa Untuk Ibunda di hari ibu. Berisi 125 kisah nyata tentang ibu menurut pengakuan para blogger. Secara resmi diluncurkan mulai hari ini 22 Desember 2014 bertepatan dengan peringatan hari ibu. 

Buku HISS bisa dijadikan sebagai kado/hadiah istimewa untuk orang yang  disayangi atau penting dalam kehidupan anda. Bisa juga dijadikan salah satu koleksi perpustakaan anda. Buku antologi yang digagas oleh Pakde Cholik dan Mas Belalang Cerewet sudah bisa dimiliki sekarang juga dengan cara memesan melalui Mas Belalang Cerewet atau bisa juga melalui saya.

Judul                :  Hati Ibu Seluas Samudra
Penulis             :  Susan, Diah Kurnia Sari, Abdul Cholik, dkk
Penyunting       :  Tim Sixmidad
Desain Isi         :  Sixmidad
Desain Sampul : Dani S
Penerbit           : Penerbit Sixmidad, Bogor
Tahun              : Cetakan Pertama Desember 2014
ISBN              : 978-602-0997-02-5
Jumlah Halaman : xii+624 halaman ( total 636 halaman)
Ukuran            : 15 x21 cm
Harga              : Soft cover Rp 75.000, hard cover Rp 115.000
Cara order      : melalui inbox fb http://www.facebook.com/Belalang.Cerewet atau http://www.facebook.com/tini.djajadi


Jumat, 19 Desember 2014

Bukan Suami Romantis

" Papa ini orangnya enggak romantis banget deh. Sekali-kali bikin pesta kejutan atau berikan hadiah untuk Mama. Bisa makan malam berdua kek,  belikan kado  atau ajak  Mamanya jalan-jalan. Masa Mama dibiarkan di rumah saja kan bete " komentar si sulung pada Ayahnya yang membuat saya tersenyum. Setiap hari selalu ada saja yang jadi bahan pembicaraan Rangga, si sulung. Mulai dari dosen-dosennya di kampus, klub basketnya, teman-teman kuliahnya hingga percaturan politik yang lagi hangat saat ini. Anak ini dari kecil memang sudah ramai. Setiap pulang sekolah dia selalu pulang dengan membawa segudang cerita tentang kegiatannya di sekolah hari itu. Kali ini yang menjadi topik pembicaraan adalah sifat Ayahnya yang menurutnya " Kurang Romantis ".

Suami memang bukan tipe suami romantis yang selalu memberi kejutan untuk istrinya. Dulu diawal pernikahan kami, saya seringkali kesal karena dia selalu lupa dengan hari ulang tahun saya atau hari ulang tahun pernikahan kami. Jangankan memberi kado, diingatpun tidak. " Dalam keluarga saya hari ulang tahun bukan sesuatu yang istimewa. Jadi tidak pernah ada perayaan khusus, apalagi dengan membelikan kado " demikian pembelaannya saat saya melakukan protes. Berbeda dengan kebiasaan dalam keluarga besar saya. Ulang tahun atau hari penting lainnya kami jadikan sebagai hari berkumpul keluarga dan saling mengungkapkan kasih sayang. Ibu almarhum, setiap tahun selalu mengumpulkan anak, mantu, cucu dan cicitnya  pada setiap peringatan hari ulang tahunnya. Keluarga suami  tidak pernah melakukan hal serupa. Perbedaan kebiasaan ini  terbawa dalam kehidupan kami yang sekarang. Sehingga kami juga tidak pernah membuat acara khusus untuk hari ulang tahun anak-anak.

Kegiatan saya sekarang memang lebih banyak dilakukan didalam rumah mungkin itulah yang dilihat oleh Rangga. Sehingga terlontar protes untuk Ayahnya yang meminta Mamanya sekali-kali dibawa jalan-jalan makan malam berdua diluar. Dulu, sebelum menikah kegiatan saya memang lebih banyak dilakukan diluar rumah. Sebagai seorang pengurus  organisasi difabel membuat saya lebih banyak keluar rumah saat itu. Namun setelah menikah saya memutuskan untuk berhenti total dan lebih memilih untuk mengurus anak dan suami. Memang terkadang terbersit keinginan untuk aktif kembali seperti dulu. Apalagi sekarang anak-anak sudah besar, sudah mandiri dan tidak banyak bergantung pada orangtua. Ditambah suami juga mendorong untuk aktif kembali jika saya menghendaki. Pertemuan kami pun terjadi setelah saya menyelesaikan acara Musyawarah Nasional di salah satu kota. Sehingga dia tahu persis jika dulu  saya termasuk orang yang aktif dan tidak bisa  hanya berdiam diri di rumah. Tapi keinginan itu pupus karena tidak ingin kehilangan banyak waktu berkomunikasi dan bertemu dengan anak-anak dan suami. Lagipula mengabdi untuk sesama tidak  selalu  harus keluar rumah tapi bisa juga lewat tulisan yang akhir-akhir ini mulai saya tekuni. 

Hampir dua puluh tahun  saya mengabdikan hidup untuk anak dan suami. Perbedaan-perbedaan yang timbul antara saya dan suami mulai berkurang. Tapi bukan berarti hilang sama sekali. Seperti yang Rangga katakan Ayahnya kurang romantis karena jarang memberikan kado, membuatkan pesta kejutan, mengajak ibunya jalan-jalan bukan lagi suatu hal penting untuk saya. Secangkir teh hangat di pagi hari atau pijatan lembut disaat sedang cape itu sudah merupakan hal paling romantis untuk saya. Melihat suami dan anak-anak sehat dan bahagia itu juga sudah merupakan kado  paling istimewa. Makan malam berdua di sebuah restoran mahal atau perhiasan mewah sekalipun, tetap tidak ada artinya jika saya kehilangan banyak waktu berdua dengan suami untuk saling memberi dan mencurahkan kasih sayang. Keromantisan tidak bisa diukur dari benda mahal , pesta kejutan atau seringnya jalan-jalan keluar kota/negeri. Kasih sayang utuh yang diberikan oleh pasangan, saling menjaga dan memberikan perhatian ini  jauh lebih romantis. Hal seperti ini yang belum terlalu dipahami oleh anak seusia Rangga saat ini. Jika sudah mencapai umur kedewasaannya, Rangga akan mengerti bahwa romantis itu tidak identik dengan kado atau pesta kejutan.


Rabu, 17 Desember 2014

Etika Bertetangga

Tetangga adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Tetapi tetangga juga bisa jadi  yang pertama dicari saat dibutuhkan jika keberadaan saudara-saudara jauh dengan kita.  Tetangga bisa juga menjadi yang pertama dihubungi  untuk kita bagi kebahagiaan. Namun apa jadinya jika memiliki tetangga " menyebalkan ". Rasanya  ingin segera pindah atau tetangga itu sendiri pindah menjauh dari kehidupan kita.

" Mama dan Papa pernah bertengkar tidak ? " pertanyaan si sulung  suatu ketika yang membuat saya terkejut. 
" Adakalanya Mama dan Papa juga bertengkar.  Memang kenapa kok tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu ? ". Terus terang sedikit terkejut mendengar pertanyaan si sulung yang tidak biasanya.
" Tapi aku tidak pernah melihat Mama dan Papa bertengkar seperti tetangga disebelah kita ". Olala......jadi itu sumber pertanyaannya.
" Karena Mama dan Papa tidak pernah bertengkar didepan anak-anak " .
Kebetulan tetangga disebelah keluarga kami seringkali ribut tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Terkadang siang hari, adakalanya juga malam hari.  Anak-anak seringkali mendengar  dan melihat pertengkaran mereka.
" Kasihan ya Ma, anak-anak mereka " komentar si sulung yang sering melihat anak-anak tetangga ketakutan jika orang tuanya tengah ribut. Tidak terbatas pada keributan, tetangga yang satu ini juga orangnya tidak pernah perduli dengan lingkungan sekitarnya. Dan gayanya itu alamak.........! sebatang rokok tidak pernah lepas terselip di jari si Nyonya.

Lain lagi ceritanya dengan tetangga yang berada jauh dari tempat tinggal saya, namun cukup mengganggu ketenangan saya dan suami. Kami berdua di titipi rumah untuk dikontrak. Tetangga disebelah rumah tersebut kebetulan anggota dewan yang terhormat, tetapi perilakunya sungguh tidak terhormat. Rumahnya ini berada dalam satu komplek perumahan. Dimana satu dinding dengan yang lainnya saling menyatu. Kebetulan disebelah kiri rumah adalah seorang anggota dewan tetapi perilakunya sungguh "menyebalkan". Sewaktu yang bersangkutan merenovasi rumahnya menjadi  tingkat. Dia tidak pernah meminta ijin apalagi berjanji akan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat pembangunannya pada tetangga sekitar. Akibat dari pembangunan rumahnya, rumah kami yang bersebelahan dengannya mengalami kerusakan yang cukup parah. Tidak ada permintaan maaf dan ganti rugi sama sekali dari sang anggota dewan yang terhormat tersebut. Padahal kerusakannya sangat parah, sehingga kami memutuskan untuk merenovasi rumah total.

Situasi berbalik, giliran rumah kami di renovasi  yang bersangkutan mencak-mencak, padahal sebelumnya kami sudah minta ijin dan jika terjadi kerusakan akibat dari renovasi maka akan diperbaiki kembali. Setelah rumah selesai, kami berniat untuk memperbaiki rumahnya yang sedikit mengalami kerusakan ekses dari renovasi dengan membawa tukang. Dia menolak dengan  alasan, hanya akan diperbaiki oleh tukangnya  sendiri. Ok, perjanjian itu kami sepakati. Di kemudian hari permintaannya berubah, tidak ingin diperbaiki dengan tukangnya sendiri tetapi tukang kami. Itu juga kami sepakati , permintaan itu juga berubah ujung-ujungnya yang bersangkutan meminta ganti rugi dengan sejumlah uang. Masya Allah.....! tidak ingin masalah ini berkepanjangan akhirnya kami sepakati permintaannya. Dengan "terpaksa" Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) kami berikan padanya sebagai ganti membeli cat dan membeli semen untuk memperbaiki keretakan sedikit yang jika kami perkirakan kerusakannya tidak lebih dari Rp. 4.000.000 ( empat juta rupiah).

Kita tidak bisa memilih dengan siapa bertetangga. Dimanapun tinggal pasti akan ada orang yang mungkin saja "menyebalkan ". Karena orang-orang seperti itu bisa berada dimana saja. Tempat tinggal saya bukan berada dilingkungan komplek perumahan yang dikenal lebih kekeluargaan. Tetapi tetap ada tetangga yang "menyebalkan" di kawasan perumahan juga tetap ada tetangga yang "menyebalkan".

Untuk menjadi tetangga yang baik, ada baiknya setiap penghuni kampung/perumahan memiliki etika bertetangga yang baik. Agar suasana lingkungan menjadi lebih nyaman, tidak saling menyakiti namun saling menjaga dan menghormati, seperti :
  1. Menghormati tetangga dan berperilaku baik terhadap mereka. 
  2. Pada saat membangun, hendaknya tidak  mengganggu tetangga , tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, tidak melampaui batasnya apalagi sampai merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.
  3. Hendaknya memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah. Menjaga harta dan kehormatan tetangga dari tangan-tangan  jahil. Mengulurkan  bantuan dan pertolongan, menjaga rahasia aib tetangga.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan. Seperti suara radio atau televisi,  mengganggu tetangga dengan melempari halamannya dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. 
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran. Ajak mereka berbuat  makruf dan mencegah yang mungkar. Berlaku bijaksana (hikmah) dengan memberi nasehat baik tanpa bermaksud untuk menjatuhkan.
  6. Saling memberikan makanan dan oleh-oleh kepada tetangga jika ada. 
  7. Turut bersuka cita dalam kebahagiaannya dan berduka cita dalam dukanya. Menjenguknya dikala sakit, tanyakan kabar jika tidak melihatnya. Sekali-kali boleh juga mengundang tetangga ke rumah. 
  8. Tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan tetangga dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya  tidak memandang kekeliruan dan kealpaannya.
  9. Bersabar atas perilaku kurang baik tetangga terhadap kita. 

Kamis, 11 Desember 2014

Masih Bisa Hamil Dan Melahirkan Meskipun Polio


Menceritakan kembali pengalaman saat hamil dan melahirkan. Membuat saya mengingat kembali peristiwa dua puluh tahun silam saat kehamilan yang pertama. Kejadiannya  sudah sangat lama berlalu namun saya masih bisa mengingat dengan jelas sejumlah pengalaman dan peristiwa yang  membuat saya sedikit trauma.

Empat bulan setelah menikah saya  hamil. Padahal dulu tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak saya bisa memberikan keturunan. Kedua kaki saya lumpuh mulai dari pinggul kebawah akibat polio. Tetapi  organ reproduksi  masih bisa berfungsi dengan baik. Saat memeriksakan kehamilan  disalah satu rumah sakit, dokter kandungan mengatakan “ Ibu tidak mungkin bisa melahirkan secara normal, karena pasien saya yang kondisinya lebih ringan daripada ibu harus melahirkan dengan cara  operasi “ . Mendengar kata operasi  membuat nyali saya ciut.

Teman sesama penyandang polio  mereferensikan  dokter yang biasa menangani ibu dengan kondisi fisik tidak sempurna. Sayapun pindah dokter  “ Nanti diperiksa panggul terlebih dahulu, berdasarkan hasil pemeriksaan panggul baru bisa diputuskan  apakah ibu bisa melahirkan normal atau tidak “  saat ditanyakan kemungkinan  bisa melahirkan secara normal.

Hamil otomatis menjadi gemuk. Dengan tubuh gemuk membuat saya mudah jatuh. Walaupun sudah sangat berhati-hati namun tidak urung beberapa kali terjatuh. Memasuki usia kehamilan delapan bulan saya terjatuh dengan posisi duduk. Ketika terjatuh, saya  merasakan sesak nafas juga tidak ada gerakan bayi. Segera saya memeriksakan kehamilan Alhamdulillah hasil pemeriksaan masih ada tanda-tanda kehidupan.

Usia kehamilan tiga puluh tiga minggu saya melakukan pemeriksaan panggul untuk melihat kemungkinan bisa melahirkan secara normal. Pemeriksaan ini sakit luar biasa. “ Lebar panggul ibu 8,5 cm, untuk bisa melahirkan secara normal lebar panggul harus 9 cm. Karena selisihnya cuma ½ cm  dicoba normal saja ya bu. Lagipula ini kelahiran anak pertama. Jika bisa melahirkan normal berikutnya juga bisa  “ kata dokter yang membuat saya lega.

Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Dokter sudah membekali surat pengantar jika terjadi sesuatu diluar kewajaran, saya diminta segera ke rumah sakit. Saat hendak melaksanakan sholat subuh  terlihat ada bercak darah. Rumah sakit sempat meminta saya pulang  kembali. Menurut perawat, saat itu saya baru mengalami bukaan dua. Saya katakan padanya tentang pesan dokter dan surat pengantar yang diberikannya. Akhirnya saya langsung masuk rumah sakit.

Lewat tengah hari baru dilakukan  pemeriksaan. Pembukaan masih  berada pada posisi dua, dokter memutuskan untuk memberi induksi dengan harapan ada kemajuan. Saya mulai merasakan mulas yang luar biasa. Bolak-balik juga dilakukan pemeriksaan dalam, tetap tidak ada perubahan. Pembukaan masih berada di posisi dua. Seharian menahan mulas dan menahan sakit setiap kali pemeriksaan dalam, dokter akhirnya memutuskan  harus operasi. “ Kita sudah mencoba tapi tetap tidak ada perubahan. Ibu juga sudah kehilangan tenaga. Saya putuskan untuk melakukan operasi “ kata dokter pada suami. Malam itu juga pukul 21.00 WIB lahirlah putra pertama kami melalui operasi cesar.

Alhamdulillah putra sulung kini sudah berusia delapan belas tahun. Perjuangan yang tidak mudah untuk saya bisa hamil dan melahirkan, namun saya bahagia bisa memberikan keturunan  walaupun kondisi fisik tidak sempurna.



Rangga, si sulung




Rabu, 10 Desember 2014

Perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan perempuan biasa-biasa saja

Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan bila dibandingkan dengan perempuan dengan wajah biasa-biasa saja. Demikian yang saya dengar dari sebuah radio. Mendengarkan radio saat bekerja menjadi kebiasaan saya sehari-hari. Disamping membuat suasana lebih rilex juga bisa mendapatkan berbagai informasi yang bisa dijadikan materi untuk mengisi blog tanpa meninggalkan aktifitas pekerjaan sehari-hari.

Penasaran dengan hasil penelitian tersebut apa saja yang menjadi parameter penelitian sehingga ditarik satu kesimpulan yang mengatakan jika : " Perempuan cantik lebih mudah memperoleh pekerjaan bila dibandingkan  perempuan dengan wajah biasa-biasa saja " saya mulai googling untuk memperoleh  informasi lebih detail.

Sekelompok ilmuwan Amerika Serikat melakukan penelitian dengan menelusuri kehidupan para siswa sebuah sekolah di Wisconsin, Amerika Serikat. Juga kehidupan para siswa setelah lulus dari sekolah. Parameter yang diamati adalah penampilan, kerja individu, sosial dan sebagainya. Lebih detail lagi hasil penelitian tersebut menyebutkan perempuan berpenampilan cantik secara fisik lebih dominan dalam memperoleh kesuksesan. Seperti mendapatkan pekerjaan  lebih baik dengan jabatan bergengsi, serta gaji yang cukup tinggi. Kariernya juga lebih cepat menanjak tanpa dipengaruhi oleh kemampuan IQ mereka.

Bahkan meski kecantikan mereka mulai luntur karena usia, mereka masih mampu mendapatkan kesuksesan. Sedangkan mereka yang memiliki wajah biasa-biasa saja kalah bersaing dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Menurut penelitian ini pula mereka yang memiliki wajah cantik lebih percaya diri untuk memancing interaksi dengan orang lain dengan memanfaatkan kecantikannya. Sehingga membuat mereka dengan wajah cantik lebih mudah bersosialisasi.

Apakah hasil penelitian ini membuat perempuan dengan wajah biasa-biasa saja menjadi rendah diri ? Tentu saja tidak karena sejatinya Yang Maha Pencipta menciptakan semua  umatnya dengan sempurna. Mereka yang memiliki wajah cantik  adalah anugerah atau bonus dari sang Maha Pencipta. Namun bukan berarti mereka yang memiliki wajah biasa saja juga tidak memperoleh bonus. Kelebihan yang tidak dimiliki perempuan cantik itulah yang menjadi bonusnya. Karena dibalik setiap kekurangan setiap manusia pasti ada kelebihannya. Kelebihan ini yang harus dicari oleh setiap insan untuk menutupi kekurangan yang ada. Sehingga membuat seorang perempuan biasa-biasa saja bisa terlihat cantik dan menarik yang bisa menaikkan nilai tawar.

Menjadi cantik adalah idaman setiap orang. Namun ketika Sang Maha Pencipta mentakdirkan seseorang untuk memiliki fisik tidak sempurna atau tidak cantik bukan berarti akhir dari segalanya. Siapapun dia masih bisa terlihat cantik kuncinya adalah rasa percaya diri.

Selasa, 09 Desember 2014

Benda yang wajib dibawa saat berangkat kerja atau bepergian

Benda apa saja yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja atau bepergian ? pasti jawabnya berbeda-beda tergantung dari kepentingan dan ketergantungan yang bersangkutan terhadap benda tersebut.  Seorang teman mengatakan benda yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja adalah perlengkapan make up. Pernah suatu kali perlengkapan make up-nya tertinggal di rumah. Karena dia merasa tidak percaya diri tanpa perlengkapan make up tersebut, walhasil dia menyempatkan diri mencari mini market yang tidak jauh dari tempatnya bekerja untuk mencari bedak, lipstik eye liner, eye shadow, dan pelentik bulu mata. Jika dilihat apa yang dilakukan oleh teman saya itu boros ya ! sampai harus membeli lagi perlengkapan make up karena rasa kurang percaya diri. Namun hal tersebut bisa dipahami mengingat dunia kerjanya berhubungan dengan promosi produk-produk kecantikan. Jadi wajar saja  dia merasa kurang percaya diri ketika harus berhadapan dengan client tanpa sentuhan make up.

Lain lagi cerita teman pria yang tidak bisa lepas dari telpon genggam/handphone. Handphone adalah benda  wajib yang tidak boleh tertinggal pada saat berangkat kerja. Menurutnya tanpa handphone di tangannya semua pekerjaannya berantakan. Mengapa sekarang ketergantungan orang terhadap handphone begitu tinggi ? Padahal dulu sebelum " benda ajaib itu ada " semuanya fine-fine saja. Siapapun tidak perlu panik yang berlebihan tanpa adanya handphone semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Begitu tingginya ketergantungan seseorang pada handphone seorang teman mengatakan " serasa memasuki jaman batu jika tanpa handphone ditangan "

Benda apa yang wajib saya bawa ketika hendak bepergian ? yang pasti adalah dompet. Tidak terbayang jika bepergian tanpa membawa dompet, apalagi jika perginya dengan menggunakan kendaraan umum. Mengapa harus dompet ? teringat kejadian pada saat kuliah dulu ketinggalan dompet dirumah. Karena terburu-buru tidak sempat memeriksa kembali jika dompet sudah dimasukkan kedalam tas, baru tersadar saat hendak membayar ongkos angkot. Untung sang sopir baik hati sehingga saya terbebas untuk tidak membayar. Setelah kejadian tersebut membuat saya lebih teliti dan selalu memeriksa terlebih dahulu apakah dompet sudah masuk sebelum pergi.

Benda apa yang wajib dibawa pada saat bepergian tergantung pada kebutuhan masing-masing. Untuk seorang ibu yang memiliki bayi mungkin benda yang wajib dibawanya adalah botol susu dan popok. Untuk seorang ayah bisa jadi handphone atau kunci. Bisa kunci mobil, rumah atau motor.  Benda apapun yang wajib dibawa hendaknya tidak mengurangi rasa percaya diri jika benda tersebut tertinggal. Dan tidak menjadikan benda tersebut sebagai benda keramat yang wajib dibawa kemanapun juga.




Kamis, 04 Desember 2014

Materi yang dianggap "Nyampah" di Media Sosial


Media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram seolah sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi para penggunanya. Melalui medsos mereka bebas berekspresi apa saja disana. Melakukan kritik, curhat, berselfi ria bahkan  melakukan sumpah serapah kepada orang yang tidak disukai bisa saja dilakukan di media sosial. Pengguna media sosial  tidak terbatas usia. Tua, muda bisa memiliki akun di media sosial. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap kurang gaul jika tidak memiliki akun di medsos.

Walaupun para pemilik akun tersebut bebas menggunakan medsos dengan akun masing-masing, tapi apakah mereka tahu jika yang diposting atau  diunggah mungkin saja dianggap sampah oleh pengguna media sosial yang lainnya. Misalnya :
  1. Curhat di media sosial, sebagian pengguna medsos ada yang menggunakan medsos tempatnya untuk melakukan curhat/berkeluh kesah. Sebetulnya sah-sah saja yang bersangkutan melakukan yang demikian. Tetapi apakah sudah dipikirkan lebih jauh tentang efek yang ditimbulkan dengan berkeluh kesah/curhat di medsos. Apalagi jika melakukan curhat/keluh kesah dengan tujuan menumpahkan kekesalan pada pasangan hidup seperti suami/istri, atau kesal pada pacar. Alih-alih mendapat simpati mungkin sebagian pengguna medsos malah menganggapnya sebagai hal yang kurang simpatik. Dan menganggapnya sebagai "nyampah" di wall-nya sendiri. Kurang bijak rasanya jika seorang istri menumpahkan kekesalan pada pasangan hidupnya dengan menuliskannya di media sosial demikian juga sebaliknya. Bukankah " Istri itu ibarat pakaian suami dan suami itu ibarat pakaian istri yang harus saling menutupi " . Menumpahkan kekesalan pada pacar dengan membuat kalimat yang mungkin saja menyinggung keluarga dari yang bersangkutan, apakah itu tidak akan menimbulkan masalah di  kemudian hari ?
  2. Mengajak/mengirimi seseorang untuk melakukan permainan atau game untuk ikut bersamanya dalam satu permainan game. Seringkali seorang maniak game tidak menyadari jika kebiasaannya mengirimi permintaan untuk ikut bermain game bersamanya seringkali membuat kesal yang diundangnya. Karena undangan yang berulang-ulang hanya akan memenuhi wall orang lain. Contohnya saya sendiri tidak suka dan tidak pernah melakukan permainan game. Tatkala ada seorang teman yang terus menerus mengajak untuk ikut bermain game bersamanya saya agak kesal juga karena wall  menjadi penuh dengan ajakan bermain game. Akhirnya yang bersangkutan saya kirimi inbox  dengan  mengatakan : " Terima kasih atas ajakan permainan gamenya tetapi maaf saya tidak pernah dan tidak suka bermain game. Saya hanya suka membaca dan menulis. Kemudian saya tawari yang bersangkutan buku antologi saya " . Sejak itu dia tidak pernah mengirimi permintaan untuk bermain game.
  3. Melakukan kritik terus menerus. Contohnya  ketika masa-masa capres tengah hangat-hangatnya banyak sekali yang menjadi komentator dadakan dan ahli-ahli politikus di media sosial. Sebetulnya sah-sah saja seseorang untuk melakukan kiritik, apalagi jika kriktik tersebut bersifat positif dan membangun. Tetapi jika kritik yang terus-menerus  dan menyudutkan seseorang seolah tidak ada sisi baik dari orang yang dikritiknya . Akhirnya jadi berpikir belum tentu pengeritik itu lebih baik dan lebih pandai dari orang yang dikritiknya. Bagi saya kritik yang seperti ini sama saja dengan "nyampah" apalagi jika nama saya ikut di mention atau di tag. 
  4. Mereka yang menjadikan akun di medsosnya sebagai ajang promosi dari suatu produk. Banyak dari pemilik akun menjadikan akun di medsosnya sebagai sarana untuk mempromosikan suatu produk. Namun seringkali mereka lupa untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik akun yang hendak "disinggahi" untuk dijadikan tempatnya melakukan promosi. Ibaratnya akun yang dimiliki itu adalah sebuah rumah jadi paling tidak tetap harus ada sopan santun sebelum memasuki rumah orang lain. 
Bagaimanapun juga kita menggunakan medsos tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah kesopanan jangan sampai  apa yang diposting dianggap sebagai "sampah" bagi pemilik akun yang lainnya. Ini hanya pendapat saya, entahlah dengan pendapat yang lainnya. Semua  tergantung pada para pengguna media sosial itu sendiri dari arah mana mereka memandangnya.  Marilah untuk tetap berada dalam koridor yang baik dengan memperhatikan etika dan kesopanan. Tidak merugikan orang lain dan yang lebih penting tetap bijak jangan sampai tersandung dengan UU ITE.


Rabu, 03 Desember 2014

Harapan untuk kualitas hidup lebih layak bagi penyandang disabilitas

Tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari Internasional Penyandang Disabilitas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bagaimana dengan penyandang disabilitas di Indonesia sendiri ?
Sebagai seorang difabel seringkali saya merasa iri dengan negara-negara lain yang lebih " manusiawi " dalam memperlakukan kaum disabilitas.Pendidikan, aksesibilitas, lapangan pekerjaan mereka mendapatkan hak yang sama dengan warga normal lainnya. Sementara di Indonesia ? semuanya masih serba memprihatinkan. Menyedihkan ketika ada seseorang yang mengatakan " Jangankan memikirkan kaum difabel untuk memikirkan mereka yang normal saja masih sulit " , sebegitukah pandangan mereka ? Apakah kami tidak boleh memperoleh hak yang sama sebagai warga negara. Ataukah keberadaan kami  salah seharusnya bukan berada di wilayah Indonesia. 

Fasilitas umum, coba tengok berapa banyak fasilitas umum di Indonesia yang memperhatikan kebutuhan kaum disabilitas. Untuk urusan buang hajat kecil masih sedikit fasilitas yang dirancang khusus untuk kebutuhan kaum disabilitas. Kendaraan umum, baik darat udara dan laut masih belum ada satupun fasilitas kendaraan umum yang aksesible untuk kaum disabilitas. Meminta perhatian pemerintah ? rasanya sudah banyak keluhan, pengaduan atau seminar-seminar yang membahas kenyamanan kendaraan umum untuk disabilitas.

Contoh kecil saja, ketika hendak bepergian keluar kota dengan menggunakan kereta api betapa sulitnya seorang difabel fisik seperti saya (polio) ketika hendak naik.  Keberadaan kereta yang cukup tinggi sementara bahu jalan tempat berpijak masih kurang tinggi padahal tangga yang tersediapun tidak cukup nyaman untuk diinjak. Saya masih mending, masih bisa naik dengan menggunakan tangga yang tersedia, bagaimana dengan mereka yang menggunakan kursi roda ? Akhirnya mereka yang menggunakan kursi roda memillih melipat kursi rodanya kemudian merangkak naik keatas kereta, manusiawikah itu ? membiarkan seorang difabel harus merangkak dengan resiko baju dan tangannya kotor. Berapa banyak kuman yang mungkin saja menempel di pergelangan tangannya. Padahal untuk mencapai toilet guna membersihkan tangan itu juga tidak mungkin dengan pintu toilet yang kecil tidak memungkinkan seorang pengguna kursi roda bisa memasuki toilet yang berada diatas kereta api.

Pendidikan, berapa banyak kaum disabilitas di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang cukup layak. Tidak banyak jumlah penyandang disabilitas yang bisa mendapatkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Padahal pendidikan adalah salah satu syarat penting bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Peningkatan kualitas hidup untuk seorang disabilitas bisa diakui dan diterima keberadaannya ditengah masyarakat. 

Sebagai salah seorang yang menjadi bagian dari kaum disabilitas, saya masih berharap adanya berbagai perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan dengan mengacu pada beberapa peraturan dan perundang-undangan yang sudah ada seperti :

Undang-Undang No. 4/1997 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah 43/1998 tentang Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (1997/ 1998): Secara khusus mengatur penyandang disabilitas. Pasal 14 menegaskan kuota 1 persen untuk ketenagakerjaan penyandang disabiltias di perusahaan pemerintah dan swasta. Pasal 5 menyatakan bahwa “setiap penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan”. Pasal 6 mendaftar berbagai hak bagi penyandang disabilitas seperti pendidikan, pekerjaan, perlakuan yang sama, aksesibilitas dan rehabilitasi.

Undang-Undang No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (1999): Pasal 41(2) menyatatakan bahwa setiap orang dengan disabilitas memiliki hak atas fasilitasi dan perlakuan khusus.

Undang-Undang No.25/2009 tentang Layanan Publik (2009): Pasal 29 menyatakan bahwa penyedia layanan umum harus memberikan layanan khusus kepada penyandang disabilitas sesuai dengan peraturan.

Undang-Undang No.28/2002 tentang Pembangunan Gedung (2002) mengatur secara jelas bahwa fasilitas harus aksesibel bagi penyandang disabilitas. Pasal 27 menyatakan fasilitas harus mudah, aman dan menyenangkan, terutama bagi para penyandang disabilitas.



Referensi : 






Selasa, 02 Desember 2014

Kubungkus Rinduku Dengan Istighfar

Peristiwa itu terjadi kira-kira tujuh puluh hari yang lalu, aku membungkus rasa rindu dengan memperbanyak istighfar dan mengunjungi tempat peristirahatannya yang terakhir. 

Senja mulai turun, satu persatu jendela rumah kututup. Jendela dari bangunan rumah tua dengan daun jendela terbuat dari kayu yang terbuka lebar. Dibagian dalam terdapat dua daun jendela dari kaca dengan bingkai kayu disekelilingnya. Sebagian orang yang melihatnya memintaku untuk mempertahankan bentuknya. " Antik " demikian alasan mereka. Bentuk jendela yang jarang dimiliki untuk bangunan rumah dijaman sekarang ini.  " Tini, tolong tutupkan jendela kamar ibu " demikian ucap beliau jika mengalami kesulitan saat menutup jendela kamarnya. Hari ini untuk kesekian kalinya setelah beliau tiada aku masih melakukan hal yang sama. Melangkah masuk kedalam kamarnya yang masih sama seperti sebelumnya. Masih memiliki aroma yang sama, masih terlihat rapih, masih belum banyak perubahan. Yang membedakan hanyalah kini sudah tidak ada lagi penghuninya. Kamar itu masih dibiarkan kosong, dan aku masih harus menahan gejolak rindu setiap kali kulangkahkan kaki kesana.

Matahari masih sedikit menyembulkan sinarnya saat aku mulai berdiri didepan jendela dengan daun jendela yang terbuka lebar. Kuhirup udara sore dari luar, kupejamkan mata. Aroma harum tubuh ibu masih bisa kuingat jelas. Aroma parfum flora itulah  kesukaannya.  Kutatap pohon jambu batu milik tetangga yang tengah berbuah lebat dari balik jendela kamar ibu. Pohon jambu yang dulu sering membuat masalah karena daunnya yang berguguran seringkali jatuh tepat diatas genting kamar ibu dan menghambat saluran air.  Menyebabkan kebocoran didalam kamar. Berulang kali ibu meminta pada pemilik rumah untuk memangkas pohonnya sedikit tapi tidak pernah digubris. Alhasil jadilah kami siap-siap menerima kebocoran jika hujan lebat dan air tidak lancar mengalir.Kulihat seseorang berada diatas pohon tengah memanen buahnya. 

Seusai menutup jendela aku menghempaskan tubuh diatas pembaringannya. Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan kamar tidur dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Kuamati satu persatu yang ada didalamnya. Satu buah foto wisuda adikku masih tergantung ditempatnya. Begitu pula satu buah foto ibu saat masih muda bersama adik dan sepupunya juga masih berada ditempatnya. Dan satu buah foto kedua orang tuaku saat mereka masih muda juga masih berada pada posisi yang sama. Kubuka dua lemari pakaian ibu " kosong" hanya tertinggal beberapa mukena yang sengaja tidak kami berikan sebagai kenang-kenangan dari beliau. Dua lemari pakaian itu dulu penuh dan selalu terkunci. Tanpa kami ketahui beliau sudah terlebih dahulu memberikan sebagian pakaiannya pada yang lain sebelum kematiaannya tiba. Berbagi dan bersodaqoh dua pelajaran yang kami petik dari kebiasaannya sepanjang hidup.

Aku tak sanggup untuk lebih lama lagi berada didalam kamar itu. Dadaku terasa sesak menahan gejolak dan luluhan bulir-bulir halus dikelopak mata. Kulangkahkan kaki  keluar kamarnya. Saat hendak menutup pintu kupandangi foto-foto yang terbingkai rapih tepat didepan kamarnya. Itulah deretan foto cucu dan buyut-buyut  sebagai obat rindu untuknya. Pada saat bersamaan terdengar kumandang azan dari mesjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Setelah waktu maghrib seperti inilah tidak pernah terlewatkan kudengar alunan suara ibu mengaji. Kini aku hanya bisa mendengar suara itu lewat ingatan yang terus kupupuk.

" Setelah teman-teman 'Ne ( begitu panggilanku pada ibu ) satu persatu dipanggil pulang oleh Allah SWT, kapan giliran 'Ne " demikian kalimat yang sering diucapkannya manakala satu persatu teman-temannya berpulang untuk selama-lamanya. Kerinduannya untuk bertemu dengan sang Pencipta rupanya sudah tidak bisa dibendung. Walaupun perpisahan itu pasti terjadi namun nyatanya aku masih terkejut. 


Sekali lagi kubungkus rinduku dengan istighfar dan kuantarkan sejumput doa untuk kedua orang tuaku di surga, Aamiin.....



Dok. pribadi


Menuju peristirahatannya yg terakhir








Jumat, 21 November 2014

Mengapa harus ribut ? inilah penyesalanku

Sampai kini rasa perih itu masih belum hilang. Ibu baru dua bulan yang lalu meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya secara tiba-tiba. Saya katakan tiba-tiba karena saat kepergiannya ke rumah sakit ibu masih bisa berjalan sendiri, masih memiliki kesadaran penuh, ibu juga tidak mau menggunakan kursi roda saat tiba di rumah sakit, Ibu masih bisa bercanda. Tapi hasil cek labnya semua buruk, irama jantungnya juga sudah datar. Hasil pemeriksaan ini yang membuat dokter dan perawat saling berpandangan seraya mengatakan “ fisik ibu luar biasa hebat, ibu kuat sekali. Kebanyakan orang dengan hasil lab dan detak jantung seperti ini sudah lewat sebelum tiba di rumah sakit”. Dengan hasil pemeriksaan awal seperti itu dokter akhirnya memutuskan untuk memasukkan ibu ke ruang ICU.

Walaupun  ibu sudah sering keluar masuk rumah sakit karena fungsi jantungnya yang sudah mulai melemah disebabkan faktor usia, tapi ibu selalu pulang kembali ke rumah dengan keadaan segar bugar. Namun  hari itu tidak ada yang menyangka jika itu adalah terakhir kalinya ibu di rumah sakit. Hanya semalam di ICU ibu berpulang keharibaanNYA untuk selama-lamanya. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun.......... Saya menangis sejadi-jadinya karena pada saat ibu berpulang ke Rahmatullah tidak berada disampingnya. Padahal sepanjang hidup saya tidak pernah berjauhan dengan ibu. Saya satu-satunya yang tidak diperkenankan untuk pergi dari rumah setelah menikah. “ Anak-anak ibu yang lain boleh dibawa pergi oleh suaminya, tetapi kamu harus tetap dengan ibu disini “ demikian ucapnya setelah saya menikah, akhirnya suami yang mengalah.

Hubungan anak dengan orang tua terkadang ada turun naiknya, demikian pula hubungan saya dengan ibu. “ Sudahlah turuti apa kemauan ibu daripada ribut terus dengan ibu gara-gara makan “ demikian ucap kakak. Ketika saya mengatakan jika ibu sudah tidak mau diatur lagi soal makanannya. Padahal sejak jantungnya bermasalah dokter memintanya untuk menjaga makanan dan melakukan diet. Ibu hanya menuruti beberapa hari saja setelah itu ibu selalu menolak dengan alasan “ berapa lama lagi sih umur ibu, biarkan  ibu makan apa saja ibu mau makan enak “.

Saya teringat beberapa bulan sebelum kepergiannya ibu selalu minta ditemani. Keadaan ini sedikit merepotkan karena saya tidak mungkin terus menerus menemaninya. Bagaimana dengan anak-anak dan suami yang juga harus diperhatikan kebutuhannya, apalagi kami juga tidak memiliki asisten rumah tangga. Untuk menyiasatinya saya bersama kakak-kakak membuat jadwal piket harian secara bergilir menemani ibu. Disaat terakhir hidupnya ibu lebih banyak bercerita terutama kisah hidupnya dimasa lalu. Mungkin karena itulah  ibu selalu ingin ditemani.  

Sampai suatu ketika entah mengapa setiap kali saya pergi keluar rumah, pulangnya ibu pasti  marah. Padahal kalaupun keluar rumah selalu bersama suami atau anak dan selalu ada yang menemani ibu dirumah. Itupun tidak pernah lama dan selalu pamit padanya. Biasanya saya selalu diam tiap kali ibu marah atau mengomel, tapi hari itu entah mengapa saya membantahnya dengan mengatakan “ mengapa ibu selalu memarahi saya setiap kali keluar rumah sedangkan terhadap kakak yang lain ibu biasa-biasa saja“. Ibu terlihat kaget saat itu, beliau tidak menyangka saya akan bersikap demikian.
Setelah kejadian itu ibu langsung pindah ke rumah kakak yang kebetulan jaraknya tidak jauh dengan tempat tinggal kami. Ibu pergi dengan hati yang terluka dan saya juga saat itu merasa tidak bersalah  terhadap ibu.

Dua hari setelah peristiwa tersebut ibu tiba-tiba mendatangi saya yang tengah membereskan pakaian didalam lemari. Sambil menangis beliau meminta maaf kemudian satu ciuman mendarat dipipi saya. Kami akhirnya berpelukan dengan berurai air mata. “ Bukan maksud ibu untuk menjauh dari Tini, untuk sementara ibu tinggal di rumah kakakmu. Biar mereka juga ikut merasakan mengurus ibu “  demikian kata ibu saat mengatakan untuk sementara tinggal di rumah kakak. Namun karena jarak rumah yang berdekatan ibu masih tetap bolak balik ke rumah.

Sampai suatu hari ibu mengeluhkan dadanya sakit dan minta diantar ke rumah sakit. “ Pokoknya ibu minta diantar kerumah sakit sekarang juga, dada ibu sakit “ keluhnya. Segera kami bawa ibu ke UGD rumah sakit yang menjadi langganannya. Meskipun ibu mengeluh dadanya sakit tapi seperti yang saya ceritakan diatas ibu masih bisa berjalan sendiri dengan kesadaran penuh. Dokter sudah berusaha menyelamatkan ibu tetapi rupanya Allah berkehendak lain hanya semalam di ICU tanggal 14 September 2014 , hari minggu pukul 15.47 ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 86 tahun.

Yang menjadi penyesalan saya, pada saat ibu menghembuskan nafas terakhirnya saya tidak berada disampingnya padahal selama hidupnya ibu tidak pernah jauh dari saya. Ditambah lagi satu peristiwa sebelumnya yang membuat ibu pindah dari rumah. “ Kejadian itu semuanya sudah diatur oleh Allah, Mama telah dipersiapkan terlebih dahulu untuk jauh dari ibu sebelum ibu benar-benar pergi untuk selama-lamanya “ demikian kata suami setiap kali saya menyesali dan menyalahkan diri sendiri mengapa harus ribut terlebih dahulu yang membuat ibu pergi dari rumah. 

Tahun ini untuk pertama kalinya saya merayakan hari ibu tanpa ibu disisiku. Tidak ada lagi  pelukan dan ciuman semuanya pasti berbeda. Namun sejumput do'a tidak pernah kulepaskan untuk menghantarkan kepergiannya ke surga dan bertemu kembali dengan Ayahanda  yang telah lebih dahulu meninggalkan kami untuk selama-lamanya.  



Saya dan Ibu


" Semua artikel dalam kontes unggulan Hati Ibu Seluas Samudra atas inisiatif sang inisiator kuis,  Pakde Guslik Galaxi telah diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Buku yang berisi tentang kisah nyata para ibu  ditulis oleh para blogger sendiri telah diterbitkan oleh penerbit Sixmidad. Buku dengan ketebalan 625 halaman berisi 125 kisah tentang ibu sebuah persembahan istimewa dalam memperingati hari ibu sudah bisa dipesan melalui penerbitnya atau melalui para kontributornya "




Selasa, 18 November 2014

BBM naik (lagi), mengapa harus panik !

Foto diambil dari google
Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali naik untuk yang kesekian kalinya. Setiap kenaikan BBM selalu disertai dengan berbagai gejolak di masyarakat. Demonstrasi yang menolak kenaikan BBM terjadi dimana-mana, ada yang tertib namun tidak sedikit pula yang berujung anarkis. Dan mengganggu ketertiban umum. Bagi para ibu rumah tangga kenaikan BBM ini tentu saja merepotkan, karena sudah bisa ditebak harga kebutuhan pokok juga ikut melambung dengan alasan kenaikan BBM. Padahal tidak sedikit dari mereka para pedagang yang telah lebih dulu menaikkan harga sebelum harga BBM resmi diumumkan pemerintah. Sehingga  pada saat  harga BBM benar-benar naik mereka juga ikut-ikutan menaikkan harga kembali. Tentu saja dengan keuntungan yang berlipat.  Mengapa keserakahan manusia dengan mengambil keuntungan dari kesulitan dan keterjepitan orang lain tidak pernah berubah. Mungkin memang sudah dasar dari sifat manusia itu sendiri yang selalu tidak pernah  merasa puas dengan apa yang diperolehnya.

" Tidak usahlah menjadi panik setiap kali ada kenaikan BBM. Yang penting Allah Azza Wa Jalla masih memberi rejeki untuk kita bisa membelinya " demikian ujar suami setiap kali saya mengeluhkan kenaikan BBM. Suami selalu begitu memandang segala sesuatu dengan santai, segalanya tidak pernah dibuat ribet. " Rejeki itu sudah ada yang mengatur, yang penting kita masih mau berusaha dan yakin Allah akan membukakan pintu rejekiNYA " Tidak perlu juga kita ikut-ikutan antri seperti yang lain untuk memperoleh selisih harga. Coba bandingkan selisih harga  dengan waktu yang terbuang untuk antri, apakah cukup sepadan ? Toh keesokan hari dan seterusnya juga pasti membeli BBM dengan harga yang sudah naik.

Kebanyakan dari kita yang terbiasa hidup dengan berlimpah materi sering lupa bersyukur dan mengeluh dengan dikuranginya kenyamanan. Contohnya kenaikan BBM otomatis akan mengurangi jumlah kenikmatan yang diperoleh dengan nilai yang sama diwaktu lalu. Tapi tahukah jika didaerah pelosok yang jauh dari ibu kota seperti di pelosok kota Kupang orang cuci rambut, cuci baju, cuci piring sabunnya sama yaitu detergen. Mereka tidak terpengaruh dengan kenaikan BBM yang penting mereka dapat listrik dan masih bisa makan sehari-hari. Jadi mengapa kita harus panik apalagi sampai stres. Anggaplah kenaikan BBM ini sebagai ujian untuk menguji kita juga sebagai penghapus dosa atas keresahan yang dialami.

Yang penting patut kita yakini bahwa rejeki kita telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla. Jatah rejeki yang telah Allah tetapkan tidak akan berkurang dan bertambah karena kenaikan BBM. Namun demikian kita harus tetap bekerja menjemput rejeki, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui seberapa besar jatah rejeki kita yang sudah Allah tentukan. Tidak perlulah kenaikan BBM dimaknai sebagai kesempitan dan berkurangnya jatah rejeki. Tapi maknai kenaikan BBM ini untuk kita lebih bertakwa kepada Allah, seperti yang tertulis dalam  QS At Thalaq ayat 2 - 3 yang berbunyi : " Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar. Allah akan berikan rejeki dari jalur yang tidak mereka perhitungkan ".