Loading

Jumat, 21 November 2014

Mengapa harus ribut ? inilah penyesalanku

Sampai kini rasa perih itu masih belum hilang. Ibu baru dua bulan yang lalu meninggalkan kami sekeluarga untuk selama-lamanya secara tiba-tiba. Saya katakan tiba-tiba karena saat kepergiannya ke rumah sakit ibu masih bisa berjalan sendiri, masih memiliki kesadaran penuh, ibu juga tidak mau menggunakan kursi roda saat tiba di rumah sakit, Ibu masih bisa bercanda. Tapi hasil cek labnya semua buruk, irama jantungnya juga sudah datar. Hasil pemeriksaan ini yang membuat dokter dan perawat saling berpandangan seraya mengatakan “ fisik ibu luar biasa hebat, ibu kuat sekali. Kebanyakan orang dengan hasil lab dan detak jantung seperti ini sudah lewat sebelum tiba di rumah sakit”. Dengan hasil pemeriksaan awal seperti itu dokter akhirnya memutuskan untuk memasukkan ibu ke ruang ICU.

Walaupun  ibu sudah sering keluar masuk rumah sakit karena fungsi jantungnya yang sudah mulai melemah disebabkan faktor usia, tapi ibu selalu pulang kembali ke rumah dengan keadaan segar bugar. Namun  hari itu tidak ada yang menyangka jika itu adalah terakhir kalinya ibu di rumah sakit. Hanya semalam di ICU ibu berpulang keharibaanNYA untuk selama-lamanya. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun.......... Saya menangis sejadi-jadinya karena pada saat ibu berpulang ke Rahmatullah tidak berada disampingnya. Padahal sepanjang hidup saya tidak pernah berjauhan dengan ibu. Saya satu-satunya yang tidak diperkenankan untuk pergi dari rumah setelah menikah. “ Anak-anak ibu yang lain boleh dibawa pergi oleh suaminya, tetapi kamu harus tetap dengan ibu disini “ demikian ucapnya setelah saya menikah, akhirnya suami yang mengalah.

Hubungan anak dengan orang tua terkadang ada turun naiknya, demikian pula hubungan saya dengan ibu. “ Sudahlah turuti apa kemauan ibu daripada ribut terus dengan ibu gara-gara makan “ demikian ucap kakak. Ketika saya mengatakan jika ibu sudah tidak mau diatur lagi soal makanannya. Padahal sejak jantungnya bermasalah dokter memintanya untuk menjaga makanan dan melakukan diet. Ibu hanya menuruti beberapa hari saja setelah itu ibu selalu menolak dengan alasan “ berapa lama lagi sih umur ibu, biarkan  ibu makan apa saja ibu mau makan enak “.

Saya teringat beberapa bulan sebelum kepergiannya ibu selalu minta ditemani. Keadaan ini sedikit merepotkan karena saya tidak mungkin terus menerus menemaninya. Bagaimana dengan anak-anak dan suami yang juga harus diperhatikan kebutuhannya, apalagi kami juga tidak memiliki asisten rumah tangga. Untuk menyiasatinya saya bersama kakak-kakak membuat jadwal piket harian secara bergilir menemani ibu. Disaat terakhir hidupnya ibu lebih banyak bercerita terutama kisah hidupnya dimasa lalu. Mungkin karena itulah  ibu selalu ingin ditemani.  

Sampai suatu ketika entah mengapa setiap kali saya pergi keluar rumah, pulangnya ibu pasti  marah. Padahal kalaupun keluar rumah selalu bersama suami atau anak dan selalu ada yang menemani ibu dirumah. Itupun tidak pernah lama dan selalu pamit padanya. Biasanya saya selalu diam tiap kali ibu marah atau mengomel, tapi hari itu entah mengapa saya membantahnya dengan mengatakan “ mengapa ibu selalu memarahi saya setiap kali keluar rumah sedangkan terhadap kakak yang lain ibu biasa-biasa saja“. Ibu terlihat kaget saat itu, beliau tidak menyangka saya akan bersikap demikian.
Setelah kejadian itu ibu langsung pindah ke rumah kakak yang kebetulan jaraknya tidak jauh dengan tempat tinggal kami. Ibu pergi dengan hati yang terluka dan saya juga saat itu merasa tidak bersalah  terhadap ibu.

Dua hari setelah peristiwa tersebut ibu tiba-tiba mendatangi saya yang tengah membereskan pakaian didalam lemari. Sambil menangis beliau meminta maaf kemudian satu ciuman mendarat dipipi saya. Kami akhirnya berpelukan dengan berurai air mata. “ Bukan maksud ibu untuk menjauh dari Tini, untuk sementara ibu tinggal di rumah kakakmu. Biar mereka juga ikut merasakan mengurus ibu “  demikian kata ibu saat mengatakan untuk sementara tinggal di rumah kakak. Namun karena jarak rumah yang berdekatan ibu masih tetap bolak balik ke rumah.

Sampai suatu hari ibu mengeluhkan dadanya sakit dan minta diantar ke rumah sakit. “ Pokoknya ibu minta diantar kerumah sakit sekarang juga, dada ibu sakit “ keluhnya. Segera kami bawa ibu ke UGD rumah sakit yang menjadi langganannya. Meskipun ibu mengeluh dadanya sakit tapi seperti yang saya ceritakan diatas ibu masih bisa berjalan sendiri dengan kesadaran penuh. Dokter sudah berusaha menyelamatkan ibu tetapi rupanya Allah berkehendak lain hanya semalam di ICU tanggal 14 September 2014 , hari minggu pukul 15.47 ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 86 tahun.

Yang menjadi penyesalan saya, pada saat ibu menghembuskan nafas terakhirnya saya tidak berada disampingnya padahal selama hidupnya ibu tidak pernah jauh dari saya. Ditambah lagi satu peristiwa sebelumnya yang membuat ibu pindah dari rumah. “ Kejadian itu semuanya sudah diatur oleh Allah, Mama telah dipersiapkan terlebih dahulu untuk jauh dari ibu sebelum ibu benar-benar pergi untuk selama-lamanya “ demikian kata suami setiap kali saya menyesali dan menyalahkan diri sendiri mengapa harus ribut terlebih dahulu yang membuat ibu pergi dari rumah. 

Tahun ini untuk pertama kalinya saya merayakan hari ibu tanpa ibu disisiku. Tidak ada lagi  pelukan dan ciuman semuanya pasti berbeda. Namun sejumput do'a tidak pernah kulepaskan untuk menghantarkan kepergiannya ke surga dan bertemu kembali dengan Ayahanda  yang telah lebih dahulu meninggalkan kami untuk selama-lamanya.  



Saya dan Ibu


" Semua artikel dalam kontes unggulan Hati Ibu Seluas Samudra atas inisiatif sang inisiator kuis,  Pakde Guslik Galaxi telah diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Buku yang berisi tentang kisah nyata para ibu  ditulis oleh para blogger sendiri telah diterbitkan oleh penerbit Sixmidad. Buku dengan ketebalan 625 halaman berisi 125 kisah tentang ibu sebuah persembahan istimewa dalam memperingati hari ibu sudah bisa dipesan melalui penerbitnya atau melalui para kontributornya "




13 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. turut berduka cita mbak, :)
    saalam kenal, dan semoga menang kontes unggulannya ya mbak, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, terima kasih sdh mampir

      Hapus
  3. Saya turut berduka cita, Mbak Tini.. Semoga ibunda ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah.. Iya, dilihat dari sisi positifnya aja, Mbak.. jangan menyalahkan diri sendiri.. mungkin memang benar yang dikatakan suami Mbak Tini..
    btw, sukses untuk GA nya ya Mbak :)

    BalasHapus
  4. kereen subhanalloh, insyaallah juara

    BalasHapus
  5. Mbak..airmataku berlinangan lho..mbacax.. (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mba Fitri sampai sekarangpun saya masih kerap meneteskan air mata bila mengingat sosok ibu

      Hapus

  6. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya tau via email.
    Terima kasih.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...