Loading

Rabu, 17 Desember 2014

Etika Bertetangga

Tetangga adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Tetapi tetangga juga bisa jadi  yang pertama dicari saat dibutuhkan jika keberadaan saudara-saudara jauh dengan kita.  Tetangga bisa juga menjadi yang pertama dihubungi  untuk kita bagi kebahagiaan. Namun apa jadinya jika memiliki tetangga " menyebalkan ". Rasanya  ingin segera pindah atau tetangga itu sendiri pindah menjauh dari kehidupan kita.

" Mama dan Papa pernah bertengkar tidak ? " pertanyaan si sulung  suatu ketika yang membuat saya terkejut. 
" Adakalanya Mama dan Papa juga bertengkar.  Memang kenapa kok tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu ? ". Terus terang sedikit terkejut mendengar pertanyaan si sulung yang tidak biasanya.
" Tapi aku tidak pernah melihat Mama dan Papa bertengkar seperti tetangga disebelah kita ". Olala......jadi itu sumber pertanyaannya.
" Karena Mama dan Papa tidak pernah bertengkar didepan anak-anak " .
Kebetulan tetangga disebelah keluarga kami seringkali ribut tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Terkadang siang hari, adakalanya juga malam hari.  Anak-anak seringkali mendengar  dan melihat pertengkaran mereka.
" Kasihan ya Ma, anak-anak mereka " komentar si sulung yang sering melihat anak-anak tetangga ketakutan jika orang tuanya tengah ribut. Tidak terbatas pada keributan, tetangga yang satu ini juga orangnya tidak pernah perduli dengan lingkungan sekitarnya. Dan gayanya itu alamak.........! sebatang rokok tidak pernah lepas terselip di jari si Nyonya.

Lain lagi ceritanya dengan tetangga yang berada jauh dari tempat tinggal saya, namun cukup mengganggu ketenangan saya dan suami. Kami berdua di titipi rumah untuk dikontrak. Tetangga disebelah rumah tersebut kebetulan anggota dewan yang terhormat, tetapi perilakunya sungguh tidak terhormat. Rumahnya ini berada dalam satu komplek perumahan. Dimana satu dinding dengan yang lainnya saling menyatu. Kebetulan disebelah kiri rumah adalah seorang anggota dewan tetapi perilakunya sungguh "menyebalkan". Sewaktu yang bersangkutan merenovasi rumahnya menjadi  tingkat. Dia tidak pernah meminta ijin apalagi berjanji akan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat pembangunannya pada tetangga sekitar. Akibat dari pembangunan rumahnya, rumah kami yang bersebelahan dengannya mengalami kerusakan yang cukup parah. Tidak ada permintaan maaf dan ganti rugi sama sekali dari sang anggota dewan yang terhormat tersebut. Padahal kerusakannya sangat parah, sehingga kami memutuskan untuk merenovasi rumah total.

Situasi berbalik, giliran rumah kami di renovasi  yang bersangkutan mencak-mencak, padahal sebelumnya kami sudah minta ijin dan jika terjadi kerusakan akibat dari renovasi maka akan diperbaiki kembali. Setelah rumah selesai, kami berniat untuk memperbaiki rumahnya yang sedikit mengalami kerusakan ekses dari renovasi dengan membawa tukang. Dia menolak dengan  alasan, hanya akan diperbaiki oleh tukangnya  sendiri. Ok, perjanjian itu kami sepakati. Di kemudian hari permintaannya berubah, tidak ingin diperbaiki dengan tukangnya sendiri tetapi tukang kami. Itu juga kami sepakati , permintaan itu juga berubah ujung-ujungnya yang bersangkutan meminta ganti rugi dengan sejumlah uang. Masya Allah.....! tidak ingin masalah ini berkepanjangan akhirnya kami sepakati permintaannya. Dengan "terpaksa" Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) kami berikan padanya sebagai ganti membeli cat dan membeli semen untuk memperbaiki keretakan sedikit yang jika kami perkirakan kerusakannya tidak lebih dari Rp. 4.000.000 ( empat juta rupiah).

Kita tidak bisa memilih dengan siapa bertetangga. Dimanapun tinggal pasti akan ada orang yang mungkin saja "menyebalkan ". Karena orang-orang seperti itu bisa berada dimana saja. Tempat tinggal saya bukan berada dilingkungan komplek perumahan yang dikenal lebih kekeluargaan. Tetapi tetap ada tetangga yang "menyebalkan" di kawasan perumahan juga tetap ada tetangga yang "menyebalkan".

Untuk menjadi tetangga yang baik, ada baiknya setiap penghuni kampung/perumahan memiliki etika bertetangga yang baik. Agar suasana lingkungan menjadi lebih nyaman, tidak saling menyakiti namun saling menjaga dan menghormati, seperti :
  1. Menghormati tetangga dan berperilaku baik terhadap mereka. 
  2. Pada saat membangun, hendaknya tidak  mengganggu tetangga , tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, tidak melampaui batasnya apalagi sampai merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.
  3. Hendaknya memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah. Menjaga harta dan kehormatan tetangga dari tangan-tangan  jahil. Mengulurkan  bantuan dan pertolongan, menjaga rahasia aib tetangga.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan. Seperti suara radio atau televisi,  mengganggu tetangga dengan melempari halamannya dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. 
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran. Ajak mereka berbuat  makruf dan mencegah yang mungkar. Berlaku bijaksana (hikmah) dengan memberi nasehat baik tanpa bermaksud untuk menjatuhkan.
  6. Saling memberikan makanan dan oleh-oleh kepada tetangga jika ada. 
  7. Turut bersuka cita dalam kebahagiaannya dan berduka cita dalam dukanya. Menjenguknya dikala sakit, tanyakan kabar jika tidak melihatnya. Sekali-kali boleh juga mengundang tetangga ke rumah. 
  8. Tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan tetangga dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya  tidak memandang kekeliruan dan kealpaannya.
  9. Bersabar atas perilaku kurang baik tetangga terhadap kita. 

Kamis, 11 Desember 2014

Masih Bisa Hamil Dan Melahirkan Meskipun Polio


Menceritakan kembali pengalaman saat hamil dan melahirkan. Membuat saya mengingat kembali peristiwa dua puluh tahun silam saat kehamilan yang pertama. Kejadiannya  sudah sangat lama berlalu namun saya masih bisa mengingat dengan jelas sejumlah pengalaman dan peristiwa yang  membuat saya sedikit trauma.

Empat bulan setelah menikah saya  hamil. Padahal dulu tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak saya bisa memberikan keturunan. Kedua kaki saya lumpuh mulai dari pinggul kebawah akibat polio. Tetapi  organ reproduksi  masih bisa berfungsi dengan baik. Saat memeriksakan kehamilan  disalah satu rumah sakit, dokter kandungan mengatakan “ Ibu tidak mungkin bisa melahirkan secara normal, karena pasien saya yang kondisinya lebih ringan daripada ibu harus melahirkan dengan cara  operasi “ . Mendengar kata operasi  membuat nyali saya ciut.

Teman sesama penyandang polio  mereferensikan  dokter yang biasa menangani ibu dengan kondisi fisik tidak sempurna. Sayapun pindah dokter  “ Nanti diperiksa panggul terlebih dahulu, berdasarkan hasil pemeriksaan panggul baru bisa diputuskan  apakah ibu bisa melahirkan normal atau tidak “  saat ditanyakan kemungkinan  bisa melahirkan secara normal.

Hamil otomatis menjadi gemuk. Dengan tubuh gemuk membuat saya mudah jatuh. Walaupun sudah sangat berhati-hati namun tidak urung beberapa kali terjatuh. Memasuki usia kehamilan delapan bulan saya terjatuh dengan posisi duduk. Ketika terjatuh, saya  merasakan sesak nafas juga tidak ada gerakan bayi. Segera saya memeriksakan kehamilan Alhamdulillah hasil pemeriksaan masih ada tanda-tanda kehidupan.

Usia kehamilan tiga puluh tiga minggu saya melakukan pemeriksaan panggul untuk melihat kemungkinan bisa melahirkan secara normal. Pemeriksaan ini sakit luar biasa. “ Lebar panggul ibu 8,5 cm, untuk bisa melahirkan secara normal lebar panggul harus 9 cm. Karena selisihnya cuma ½ cm  dicoba normal saja ya bu. Lagipula ini kelahiran anak pertama. Jika bisa melahirkan normal berikutnya juga bisa  “ kata dokter yang membuat saya lega.

Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Dokter sudah membekali surat pengantar jika terjadi sesuatu diluar kewajaran, saya diminta segera ke rumah sakit. Saat hendak melaksanakan sholat subuh  terlihat ada bercak darah. Rumah sakit sempat meminta saya pulang  kembali. Menurut perawat, saat itu saya baru mengalami bukaan dua. Saya katakan padanya tentang pesan dokter dan surat pengantar yang diberikannya. Akhirnya saya langsung masuk rumah sakit.

Lewat tengah hari baru dilakukan  pemeriksaan. Pembukaan masih  berada pada posisi dua, dokter memutuskan untuk memberi induksi dengan harapan ada kemajuan. Saya mulai merasakan mulas yang luar biasa. Bolak-balik juga dilakukan pemeriksaan dalam, tetap tidak ada perubahan. Pembukaan masih berada di posisi dua. Seharian menahan mulas dan menahan sakit setiap kali pemeriksaan dalam, dokter akhirnya memutuskan  harus operasi. “ Kita sudah mencoba tapi tetap tidak ada perubahan. Ibu juga sudah kehilangan tenaga. Saya putuskan untuk melakukan operasi “ kata dokter pada suami. Malam itu juga pukul 21.00 WIB lahirlah putra pertama kami melalui operasi cesar.

Alhamdulillah putra sulung kini sudah berusia delapan belas tahun. Perjuangan yang tidak mudah untuk saya bisa hamil dan melahirkan, namun saya bahagia bisa memberikan keturunan  walaupun kondisi fisik tidak sempurna.



Rangga, si sulung




Rabu, 10 Desember 2014

Perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan perempuan biasa-biasa saja

Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan bila dibandingkan dengan perempuan dengan wajah biasa-biasa saja. Demikian yang saya dengar dari sebuah radio. Mendengarkan radio saat bekerja menjadi kebiasaan saya sehari-hari. Disamping membuat suasana lebih rilex juga bisa mendapatkan berbagai informasi yang bisa dijadikan materi untuk mengisi blog tanpa meninggalkan aktifitas pekerjaan sehari-hari.

Penasaran dengan hasil penelitian tersebut apa saja yang menjadi parameter penelitian sehingga ditarik satu kesimpulan yang mengatakan jika : " Perempuan cantik lebih mudah memperoleh pekerjaan bila dibandingkan  perempuan dengan wajah biasa-biasa saja " saya mulai googling untuk memperoleh  informasi lebih detail.

Sekelompok ilmuwan Amerika Serikat melakukan penelitian dengan menelusuri kehidupan para siswa sebuah sekolah di Wisconsin, Amerika Serikat. Juga kehidupan para siswa setelah lulus dari sekolah. Parameter yang diamati adalah penampilan, kerja individu, sosial dan sebagainya. Lebih detail lagi hasil penelitian tersebut menyebutkan perempuan berpenampilan cantik secara fisik lebih dominan dalam memperoleh kesuksesan. Seperti mendapatkan pekerjaan  lebih baik dengan jabatan bergengsi, serta gaji yang cukup tinggi. Kariernya juga lebih cepat menanjak tanpa dipengaruhi oleh kemampuan IQ mereka.

Bahkan meski kecantikan mereka mulai luntur karena usia, mereka masih mampu mendapatkan kesuksesan. Sedangkan mereka yang memiliki wajah biasa-biasa saja kalah bersaing dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Menurut penelitian ini pula mereka yang memiliki wajah cantik lebih percaya diri untuk memancing interaksi dengan orang lain dengan memanfaatkan kecantikannya. Sehingga membuat mereka dengan wajah cantik lebih mudah bersosialisasi.

Apakah hasil penelitian ini membuat perempuan dengan wajah biasa-biasa saja menjadi rendah diri ? Tentu saja tidak karena sejatinya Yang Maha Pencipta menciptakan semua  umatnya dengan sempurna. Mereka yang memiliki wajah cantik  adalah anugerah atau bonus dari sang Maha Pencipta. Namun bukan berarti mereka yang memiliki wajah biasa saja juga tidak memperoleh bonus. Kelebihan yang tidak dimiliki perempuan cantik itulah yang menjadi bonusnya. Karena dibalik setiap kekurangan setiap manusia pasti ada kelebihannya. Kelebihan ini yang harus dicari oleh setiap insan untuk menutupi kekurangan yang ada. Sehingga membuat seorang perempuan biasa-biasa saja bisa terlihat cantik dan menarik yang bisa menaikkan nilai tawar.

Menjadi cantik adalah idaman setiap orang. Namun ketika Sang Maha Pencipta mentakdirkan seseorang untuk memiliki fisik tidak sempurna atau tidak cantik bukan berarti akhir dari segalanya. Siapapun dia masih bisa terlihat cantik kuncinya adalah rasa percaya diri.

Selasa, 09 Desember 2014

Benda yang wajib dibawa saat berangkat kerja atau bepergian

Benda apa saja yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja atau bepergian ? pasti jawabnya berbeda-beda tergantung dari kepentingan dan ketergantungan yang bersangkutan terhadap benda tersebut.  Seorang teman mengatakan benda yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja adalah perlengkapan make up. Pernah suatu kali perlengkapan make up-nya tertinggal di rumah. Karena dia merasa tidak percaya diri tanpa perlengkapan make up tersebut, walhasil dia menyempatkan diri mencari mini market yang tidak jauh dari tempatnya bekerja untuk mencari bedak, lipstik eye liner, eye shadow, dan pelentik bulu mata. Jika dilihat apa yang dilakukan oleh teman saya itu boros ya ! sampai harus membeli lagi perlengkapan make up karena rasa kurang percaya diri. Namun hal tersebut bisa dipahami mengingat dunia kerjanya berhubungan dengan promosi produk-produk kecantikan. Jadi wajar saja  dia merasa kurang percaya diri ketika harus berhadapan dengan client tanpa sentuhan make up.

Lain lagi cerita teman pria yang tidak bisa lepas dari telpon genggam/handphone. Handphone adalah benda  wajib yang tidak boleh tertinggal pada saat berangkat kerja. Menurutnya tanpa handphone di tangannya semua pekerjaannya berantakan. Mengapa sekarang ketergantungan orang terhadap handphone begitu tinggi ? Padahal dulu sebelum " benda ajaib itu ada " semuanya fine-fine saja. Siapapun tidak perlu panik yang berlebihan tanpa adanya handphone semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Begitu tingginya ketergantungan seseorang pada handphone seorang teman mengatakan " serasa memasuki jaman batu jika tanpa handphone ditangan "

Benda apa yang wajib saya bawa ketika hendak bepergian ? yang pasti adalah dompet. Tidak terbayang jika bepergian tanpa membawa dompet, apalagi jika perginya dengan menggunakan kendaraan umum. Mengapa harus dompet ? teringat kejadian pada saat kuliah dulu ketinggalan dompet dirumah. Karena terburu-buru tidak sempat memeriksa kembali jika dompet sudah dimasukkan kedalam tas, baru tersadar saat hendak membayar ongkos angkot. Untung sang sopir baik hati sehingga saya terbebas untuk tidak membayar. Setelah kejadian tersebut membuat saya lebih teliti dan selalu memeriksa terlebih dahulu apakah dompet sudah masuk sebelum pergi.

Benda apa yang wajib dibawa pada saat bepergian tergantung pada kebutuhan masing-masing. Untuk seorang ibu yang memiliki bayi mungkin benda yang wajib dibawanya adalah botol susu dan popok. Untuk seorang ayah bisa jadi handphone atau kunci. Bisa kunci mobil, rumah atau motor.  Benda apapun yang wajib dibawa hendaknya tidak mengurangi rasa percaya diri jika benda tersebut tertinggal. Dan tidak menjadikan benda tersebut sebagai benda keramat yang wajib dibawa kemanapun juga.




Kamis, 04 Desember 2014

Materi yang dianggap "Nyampah" di Media Sosial


Media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram seolah sudah menjadi kebutuhan sehari-hari bagi para penggunanya. Melalui medsos mereka bebas berekspresi apa saja disana. Melakukan kritik, curhat, berselfi ria bahkan  melakukan sumpah serapah kepada orang yang tidak disukai bisa saja dilakukan di media sosial. Pengguna media sosial  tidak terbatas usia. Tua, muda bisa memiliki akun di media sosial. Bahkan ada sebagian orang yang menganggap kurang gaul jika tidak memiliki akun di medsos.

Walaupun para pemilik akun tersebut bebas menggunakan medsos dengan akun masing-masing, tapi apakah mereka tahu jika yang diposting atau  diunggah mungkin saja dianggap sampah oleh pengguna media sosial yang lainnya. Misalnya :
  1. Curhat di media sosial, sebagian pengguna medsos ada yang menggunakan medsos tempatnya untuk melakukan curhat/berkeluh kesah. Sebetulnya sah-sah saja yang bersangkutan melakukan yang demikian. Tetapi apakah sudah dipikirkan lebih jauh tentang efek yang ditimbulkan dengan berkeluh kesah/curhat di medsos. Apalagi jika melakukan curhat/keluh kesah dengan tujuan menumpahkan kekesalan pada pasangan hidup seperti suami/istri, atau kesal pada pacar. Alih-alih mendapat simpati mungkin sebagian pengguna medsos malah menganggapnya sebagai hal yang kurang simpatik. Dan menganggapnya sebagai "nyampah" di wall-nya sendiri. Kurang bijak rasanya jika seorang istri menumpahkan kekesalan pada pasangan hidupnya dengan menuliskannya di media sosial demikian juga sebaliknya. Bukankah " Istri itu ibarat pakaian suami dan suami itu ibarat pakaian istri yang harus saling menutupi " . Menumpahkan kekesalan pada pacar dengan membuat kalimat yang mungkin saja menyinggung keluarga dari yang bersangkutan, apakah itu tidak akan menimbulkan masalah di  kemudian hari ?
  2. Mengajak/mengirimi seseorang untuk melakukan permainan atau game untuk ikut bersamanya dalam satu permainan game. Seringkali seorang maniak game tidak menyadari jika kebiasaannya mengirimi permintaan untuk ikut bermain game bersamanya seringkali membuat kesal yang diundangnya. Karena undangan yang berulang-ulang hanya akan memenuhi wall orang lain. Contohnya saya sendiri tidak suka dan tidak pernah melakukan permainan game. Tatkala ada seorang teman yang terus menerus mengajak untuk ikut bermain game bersamanya saya agak kesal juga karena wall  menjadi penuh dengan ajakan bermain game. Akhirnya yang bersangkutan saya kirimi inbox  dengan  mengatakan : " Terima kasih atas ajakan permainan gamenya tetapi maaf saya tidak pernah dan tidak suka bermain game. Saya hanya suka membaca dan menulis. Kemudian saya tawari yang bersangkutan buku antologi saya " . Sejak itu dia tidak pernah mengirimi permintaan untuk bermain game.
  3. Melakukan kritik terus menerus. Contohnya  ketika masa-masa capres tengah hangat-hangatnya banyak sekali yang menjadi komentator dadakan dan ahli-ahli politikus di media sosial. Sebetulnya sah-sah saja seseorang untuk melakukan kiritik, apalagi jika kriktik tersebut bersifat positif dan membangun. Tetapi jika kritik yang terus-menerus  dan menyudutkan seseorang seolah tidak ada sisi baik dari orang yang dikritiknya . Akhirnya jadi berpikir belum tentu pengeritik itu lebih baik dan lebih pandai dari orang yang dikritiknya. Bagi saya kritik yang seperti ini sama saja dengan "nyampah" apalagi jika nama saya ikut di mention atau di tag. 
  4. Mereka yang menjadikan akun di medsosnya sebagai ajang promosi dari suatu produk. Banyak dari pemilik akun menjadikan akun di medsosnya sebagai sarana untuk mempromosikan suatu produk. Namun seringkali mereka lupa untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik akun yang hendak "disinggahi" untuk dijadikan tempatnya melakukan promosi. Ibaratnya akun yang dimiliki itu adalah sebuah rumah jadi paling tidak tetap harus ada sopan santun sebelum memasuki rumah orang lain. 
Bagaimanapun juga kita menggunakan medsos tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah kesopanan jangan sampai  apa yang diposting dianggap sebagai "sampah" bagi pemilik akun yang lainnya. Ini hanya pendapat saya, entahlah dengan pendapat yang lainnya. Semua  tergantung pada para pengguna media sosial itu sendiri dari arah mana mereka memandangnya.  Marilah untuk tetap berada dalam koridor yang baik dengan memperhatikan etika dan kesopanan. Tidak merugikan orang lain dan yang lebih penting tetap bijak jangan sampai tersandung dengan UU ITE.


Rabu, 03 Desember 2014

Harapan untuk kualitas hidup lebih layak bagi penyandang disabilitas

Tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari Internasional Penyandang Disabilitas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bagaimana dengan penyandang disabilitas di Indonesia sendiri ?
Sebagai seorang difabel seringkali saya merasa iri dengan negara-negara lain yang lebih " manusiawi " dalam memperlakukan kaum disabilitas.Pendidikan, aksesibilitas, lapangan pekerjaan mereka mendapatkan hak yang sama dengan warga normal lainnya. Sementara di Indonesia ? semuanya masih serba memprihatinkan. Menyedihkan ketika ada seseorang yang mengatakan " Jangankan memikirkan kaum difabel untuk memikirkan mereka yang normal saja masih sulit " , sebegitukah pandangan mereka ? Apakah kami tidak boleh memperoleh hak yang sama sebagai warga negara. Ataukah keberadaan kami  salah seharusnya bukan berada di wilayah Indonesia. 

Fasilitas umum, coba tengok berapa banyak fasilitas umum di Indonesia yang memperhatikan kebutuhan kaum disabilitas. Untuk urusan buang hajat kecil masih sedikit fasilitas yang dirancang khusus untuk kebutuhan kaum disabilitas. Kendaraan umum, baik darat udara dan laut masih belum ada satupun fasilitas kendaraan umum yang aksesible untuk kaum disabilitas. Meminta perhatian pemerintah ? rasanya sudah banyak keluhan, pengaduan atau seminar-seminar yang membahas kenyamanan kendaraan umum untuk disabilitas.

Contoh kecil saja, ketika hendak bepergian keluar kota dengan menggunakan kereta api betapa sulitnya seorang difabel fisik seperti saya (polio) ketika hendak naik.  Keberadaan kereta yang cukup tinggi sementara bahu jalan tempat berpijak masih kurang tinggi padahal tangga yang tersediapun tidak cukup nyaman untuk diinjak. Saya masih mending, masih bisa naik dengan menggunakan tangga yang tersedia, bagaimana dengan mereka yang menggunakan kursi roda ? Akhirnya mereka yang menggunakan kursi roda memillih melipat kursi rodanya kemudian merangkak naik keatas kereta, manusiawikah itu ? membiarkan seorang difabel harus merangkak dengan resiko baju dan tangannya kotor. Berapa banyak kuman yang mungkin saja menempel di pergelangan tangannya. Padahal untuk mencapai toilet guna membersihkan tangan itu juga tidak mungkin dengan pintu toilet yang kecil tidak memungkinkan seorang pengguna kursi roda bisa memasuki toilet yang berada diatas kereta api.

Pendidikan, berapa banyak kaum disabilitas di Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang cukup layak. Tidak banyak jumlah penyandang disabilitas yang bisa mendapatkan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Padahal pendidikan adalah salah satu syarat penting bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Peningkatan kualitas hidup untuk seorang disabilitas bisa diakui dan diterima keberadaannya ditengah masyarakat. 

Sebagai salah seorang yang menjadi bagian dari kaum disabilitas, saya masih berharap adanya berbagai perbaikan dalam berbagai aspek kehidupan dengan mengacu pada beberapa peraturan dan perundang-undangan yang sudah ada seperti :

Undang-Undang No. 4/1997 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah 43/1998 tentang Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (1997/ 1998): Secara khusus mengatur penyandang disabilitas. Pasal 14 menegaskan kuota 1 persen untuk ketenagakerjaan penyandang disabiltias di perusahaan pemerintah dan swasta. Pasal 5 menyatakan bahwa “setiap penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan”. Pasal 6 mendaftar berbagai hak bagi penyandang disabilitas seperti pendidikan, pekerjaan, perlakuan yang sama, aksesibilitas dan rehabilitasi.

Undang-Undang No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (1999): Pasal 41(2) menyatatakan bahwa setiap orang dengan disabilitas memiliki hak atas fasilitasi dan perlakuan khusus.

Undang-Undang No.25/2009 tentang Layanan Publik (2009): Pasal 29 menyatakan bahwa penyedia layanan umum harus memberikan layanan khusus kepada penyandang disabilitas sesuai dengan peraturan.

Undang-Undang No.28/2002 tentang Pembangunan Gedung (2002) mengatur secara jelas bahwa fasilitas harus aksesibel bagi penyandang disabilitas. Pasal 27 menyatakan fasilitas harus mudah, aman dan menyenangkan, terutama bagi para penyandang disabilitas.



Referensi : 






Selasa, 02 Desember 2014

Kubungkus Rinduku Dengan Istighfar

Peristiwa itu terjadi kira-kira tujuh puluh hari yang lalu, aku membungkus rasa rindu dengan memperbanyak istighfar dan mengunjungi tempat peristirahatannya yang terakhir. 

Senja mulai turun, satu persatu jendela rumah kututup. Jendela dari bangunan rumah tua dengan daun jendela terbuat dari kayu yang terbuka lebar. Dibagian dalam terdapat dua daun jendela dari kaca dengan bingkai kayu disekelilingnya. Sebagian orang yang melihatnya memintaku untuk mempertahankan bentuknya. " Antik " demikian alasan mereka. Bentuk jendela yang jarang dimiliki untuk bangunan rumah dijaman sekarang ini.  " Tini, tolong tutupkan jendela kamar ibu " demikian ucap beliau jika mengalami kesulitan saat menutup jendela kamarnya. Hari ini untuk kesekian kalinya setelah beliau tiada aku masih melakukan hal yang sama. Melangkah masuk kedalam kamarnya yang masih sama seperti sebelumnya. Masih memiliki aroma yang sama, masih terlihat rapih, masih belum banyak perubahan. Yang membedakan hanyalah kini sudah tidak ada lagi penghuninya. Kamar itu masih dibiarkan kosong, dan aku masih harus menahan gejolak rindu setiap kali kulangkahkan kaki kesana.

Matahari masih sedikit menyembulkan sinarnya saat aku mulai berdiri didepan jendela dengan daun jendela yang terbuka lebar. Kuhirup udara sore dari luar, kupejamkan mata. Aroma harum tubuh ibu masih bisa kuingat jelas. Aroma parfum flora itulah  kesukaannya.  Kutatap pohon jambu batu milik tetangga yang tengah berbuah lebat dari balik jendela kamar ibu. Pohon jambu yang dulu sering membuat masalah karena daunnya yang berguguran seringkali jatuh tepat diatas genting kamar ibu dan menghambat saluran air.  Menyebabkan kebocoran didalam kamar. Berulang kali ibu meminta pada pemilik rumah untuk memangkas pohonnya sedikit tapi tidak pernah digubris. Alhasil jadilah kami siap-siap menerima kebocoran jika hujan lebat dan air tidak lancar mengalir.Kulihat seseorang berada diatas pohon tengah memanen buahnya. 

Seusai menutup jendela aku menghempaskan tubuh diatas pembaringannya. Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan kamar tidur dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Kuamati satu persatu yang ada didalamnya. Satu buah foto wisuda adikku masih tergantung ditempatnya. Begitu pula satu buah foto ibu saat masih muda bersama adik dan sepupunya juga masih berada ditempatnya. Dan satu buah foto kedua orang tuaku saat mereka masih muda juga masih berada pada posisi yang sama. Kubuka dua lemari pakaian ibu " kosong" hanya tertinggal beberapa mukena yang sengaja tidak kami berikan sebagai kenang-kenangan dari beliau. Dua lemari pakaian itu dulu penuh dan selalu terkunci. Tanpa kami ketahui beliau sudah terlebih dahulu memberikan sebagian pakaiannya pada yang lain sebelum kematiaannya tiba. Berbagi dan bersodaqoh dua pelajaran yang kami petik dari kebiasaannya sepanjang hidup.

Aku tak sanggup untuk lebih lama lagi berada didalam kamar itu. Dadaku terasa sesak menahan gejolak dan luluhan bulir-bulir halus dikelopak mata. Kulangkahkan kaki  keluar kamarnya. Saat hendak menutup pintu kupandangi foto-foto yang terbingkai rapih tepat didepan kamarnya. Itulah deretan foto cucu dan buyut-buyut  sebagai obat rindu untuknya. Pada saat bersamaan terdengar kumandang azan dari mesjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Setelah waktu maghrib seperti inilah tidak pernah terlewatkan kudengar alunan suara ibu mengaji. Kini aku hanya bisa mendengar suara itu lewat ingatan yang terus kupupuk.

" Setelah teman-teman 'Ne ( begitu panggilanku pada ibu ) satu persatu dipanggil pulang oleh Allah SWT, kapan giliran 'Ne " demikian kalimat yang sering diucapkannya manakala satu persatu teman-temannya berpulang untuk selama-lamanya. Kerinduannya untuk bertemu dengan sang Pencipta rupanya sudah tidak bisa dibendung. Walaupun perpisahan itu pasti terjadi namun nyatanya aku masih terkejut. 


Sekali lagi kubungkus rinduku dengan istighfar dan kuantarkan sejumput doa untuk kedua orang tuaku di surga, Aamiin.....



Dok. pribadi


Menuju peristirahatannya yg terakhir