Loading
Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita dan Keluarga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Tamu Bersayap Pembawa Penyakit

Tamu Bersayap Pembawa Penyakit

Mengganggu sekali jika dirumah ada lalat, padahal rumah sudah dibersihkan tapi lalat masih saja berputar-putar dengan mengeluarkan suara khasnya. Apalagi jika musim penghujan tiba seperti sekarang ini dan sampah terlambat diangkut, dijamin lalat dengan manisnya berlari-lari kesana kemari. 
Padahal sepasang lalat dapat berkembang biak sampai berjuta-juta banyaknya hanya dalam beberapa minggu. Untunglah tidak semua lalat tersebut dapat tumbuh hingga dewasa, coba bayangkan jika lalat tersebut semuanya tumbuh hingga dewasa hiiii…….serem ya.

Rabu, 06 April 2016

Bagaimana Menurunkan Berat Badan

Bagaimana menurunkan berat badan ?

Kelebihan berat badan selalu menjadi hal yang paling menakutkan terutama untuk para wanita. Karena dengan berat badan berlebih selain tidak indah dipandang mata juga biasanya diikuti dengan turunnya rasa percaya diri. Padahal setiap wanita itu ingin selalu terlihat cantik dengan fostur tubuh ideal.   Selain masalah penampilan, kelebihan berat badan juga berpengaruh terhadap timbulnya berbagai penyakit.

Kelebihan berat badan  biasanya disertai dengan  kelebihan lemak tambahan. Semua lemak tambahan ini memberi beban pada ginjal, jantung, dan hati juga persendian yang harus memikul berat badan, panggul, lutut dan mata kaki.  Kalau untuk saya kelebihan berat badan membuat saya lebih mudah terjatuh , karena ukuran kaki saya yang kecil harus menopang puluhan kilo berat badan. Sehingga jika persendian kaki sudah mulai terasa sakit-sakit itu warning agar saya mulai menjaga setiap asupan yang masuk kedalam mulut.

Senin, 29 Februari 2016

Mengenal gejala dan mengobati skizofrenia

mengenal gejala penyakit jiwa skizofrenia
Gbr diambil disini :

Kasus pembunuhan yang belum lama terjadi di Kalimantan Barat mengejutkan banyak pihak. Karena selain membunuh pelaku juga memutilasi korbannya, kedua korbannya masih berusia sekolah. Lebih mengejutkan pelaku pembunuhan dan mutilasi adalah ayah kandung korban sendiri, yang notabene adalah seorang aparat kepolisian. Dugaan sementara pelaku mengalami stress berat  dipicu oleh permintaaan cerai sang istri. Disamping stress berat yang dialami pelaku, disinyalir pelaku juga mengidap skizofrenia.

Sebagian dari kita masih ingat  yang terjadi pada artis Marshanda. Marshanda juga seorang penderita skizofrenia sehingga terkadang perilakunya tidak terkendali karena sesuatu sebab. Beruntung Marshanda memiliki keluarga yang mendukungnya untuk bisa terbebas dari skizofrenia. Mungkin diluar sana masih banyak penderita skizofrenia yang tidak mendapat penanganan dengan baik sehingga menyebabkan banyak korban berjatuhan akibat perilaku yang tidak terkendali dari penderita dan kurangnya pengetahuan deteksi dini penderita skizofrenia.

Jumat, 12 Februari 2016

Ayah dan bunda, cintai aku

Diskusi CBM dgn HWDI, Gerkatin, FKKAD, BILIC
Usai diskusi CBM dan ormas disabilitas
Minggu kemarin saya bertemu dengan  teman baik,  dia bercerita mengenai salah seorang putra sahabatnya yang berkebutuhan khusus. Sahabatnya  mengeluhkan suaminya yang seringkali tidak dapat menahan emosi dan menjadikan putranya  sebagai sasaran kemarahan . Dia kasihan melihat putranya yang selalu menjadi sasaran kemarahan ayahnya untuk alasan yang dia sendiripun tidak tahu, mengapa anaknya selalu dimarahi ayahnya ? “ Putraku itu memang beda dengan anak-anak seusianya,  sebagai ibunya aku tidak terima dia selalu dimarahi oleh ayahnya “ keluh sahabatnya.

Ayah dan bunda, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) acapkali menjadi sasaran kemarahan  atau bully dari masyarakat disekitarnya. Memprihatinkan acapkali mendengar dan melihat ABK diperlakukan tidak adil oleh lingkungan dan keluarga terdekatnya. Di bully, dimarahi, disembunyikan bahkan dibuang oleh keluarganya sendiri karena dianggap “aib atau memalukan”. 

Terbatasnya pengetahuan  masyarakat mengenai ABK membuat  ABK seringkali dianggap maaf “orang gila” atau “beban masyarakat “.  Ada juga  orang tua yang tidak siap menerima kehadiran ABK ditengah keluarganya, sehingga seringkali ABK menjadi sasaran emosi yang tidak terkendali dari orang tua.  Seperti cerita John H.G Soe yang dibuang orang tuanya karena disabilitas.

Jumat, 15 Januari 2016

Boleh tidak pacaran ?

Boleh tidak pacaran ? itu dulu yang sering ditanyakan oleh si sulung ketika memasuki usia remaja. Pacaran merupakan perkenalan antara dua orang manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga/pernikahan ( Wikipedia).
Tetapi untuk anak-anak yang baru memasuki usia remaja tentu saja masih jauh jika tujuan pacaran itu mengarah pada suatu perkawinan, sehingga saya lebih setuju jika pacaran dalam istilah mereka adalah suatu "persahabatan antara laki-laki dan perempuan" untuk lebih saling mengenal lebih dekat dengan tetap berada dalam jalur norma/etika dan kesopanan.

Kembali pada cerita boleh/tidak pacaran ? inilah pengalaman saya dengan si sulung mengenai yang anak-anak remaja katakan sebagai "pacaran".
Pagi hari biasa diisi dengan kesibukan rumah tangga dan kali ini entah mengapa disaat  tengah memasak  tiba-tiba sisulung mendatangiku didapur, mungkin dia sudah tidak tahan untuk bicara.
" Mah, aku mau cerita, boleh kan ? " 
" Cerita saja jawabku sambil terus mengaduk bumbu opor yang telah masuk kedalam wajan ". Aroma harum bumbu opor sudah mulai menggoda menambah semangat saya untuk mulai mendegar curhatan sulungku. Opor ayam juga menjadi masakan favoritnya, rupanya diapun tidak tahan untuk membawa opor sebagai bekal makan siangnya. Salah satu kebiasaannya dari kecil hingga sekarang membawa bekal nasi dari rumah. Hari itu jadwalnya berlatih basket.

Kamis, 19 Februari 2015

Biarkan Anak Mengembangkan Potensi Yang Dimilikinya

Biarkan Anak Mengembangkan Potensi Yang Dimilikinya
Dok. pribadi
" Bu, boleh tidak aku ikut sanggar tari ? " tanya si bungsu mengutarakan keinginannya untuk menekuni tarian tradisional yang pertama kali dikenalnya di sekolah.
Saya terharu mendengar permintaannya, mengingatkan kembali kenangan pada masa anak-anak dulu. Ketika saya dan saudara-saudara yang lain diwajibkan orang tua untuk mempelajari salah satu kesenian tradisional untuk mengisi waktu luang kami diluar jadwal sekolah. Tidak hanya sekedar mewajibkan, beliau juga memfasilitasinya dengan menyediakan berbagai alat musik mulai dari degung, wayang, kecapi suling juga mendatangkan guru tari dan tembang Cianjuran jika diantara kami ada yang tertarik dengan seni olah vokal tembang Cianjuran atau menari.

Zaman dulu tidak seperti masa sekarang, anak-anak disamping sekolah masih disibukkan dengan berbagai les tambahan maupun ekstra kurikuler lainnya. Cara orang tua saya menyibukkan kami semua yaitu dengan menyediakan berbagai alat musik tradisional yang bisa kami pelajari dan mainkan. Siapa sangka dari semua kegiatan itu kakak-kakak saya ada yang bisa menari di istana Bogor  mengisi acara pernikahan Mba Tutut putri Presiden Soeharto.Melalui tari juga ada yang bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kamis, 05 Februari 2015

Korban Trafficking ?

Gambar diambil disini
Sudah lama saya tidak berkunjung menemui keluarga ibu Nyai, anak tertua dari Mak Iah. Mungkin sebagian teman-teman yang sering berkunjung ke blog saya sudah mengenal sosok Mak Iah. Beliau adalah ibu pengasuh saya ketika kecil, untuk yang belum mengenal Mak Iah silahkan baca ceritanya disini. Mak Iah sudah berpulang ke Rahmatullah kurang lebih tiga tahun yang lalu. Namun saya masih tetap menjaga hubungan silaturahmi dengan putra-putrinya.

Ketika memiliki kesempatan saya bersama suami mengunjungi bu Nyai. Seperti biasanya ibu Nyai menyambut kedatangan kami dengan sumringah. Setelah cerita sana sini, bu Nyai bercerita bahwa dia baru saja menikahkan putrinya.
" Lho ! bukannya dua orang anak bu Nyai sudah menikah semuanya ? " tanya saya yang sempat menegur kenapa dia tidak mengundang saat mempunyai hajatan.
" Si Ade kan sudah pisah dengan suaminya setahun yang lalu. Kemarin itu memang mendadak acaranya, Ibu juga tidak punya persiapan apa-apa. Hanya syukuran kecil-kecilan saja mengundang tetangga dekat ".   "Sekarang Ade sudah dibawa suaminya ke Papua sementara dua anaknya tinggal bersama bu Nyai disini " kata bu Nyai bercerita panjang lebar.
" Memang suaminya kerja dimana bu, kok jauh sekali dibawanya sampai ke Papua ?" saya mulai tergelitik untuk tahu lebih banyak mengenai menantu barunya.
" Nelayan, tapi katanya dia juga punya tanah disana seluas 1 hektar " dengan bangganya bu Nyai menceritakan harta yang dimiliki menantunya. Bisa dimaklumi orang kecil seperti bu Nyai  akan merasa bangga mempunyai menantu yang memiliki tanah seluas itu. Bila dibandingkan dengan keluarganya sendiri sepanjang hidupnya harus berpindah-pindah tempat kontrakan. 
" Dia asli orang Papua dan Nelayan pekerjaannya, bu ?" tanya saya yang semakin penasaran bagaimana mereka bertemu hingga akhirnya menikah. Meluncur lah cerita bu Nyai yang membuat saya sedikit terkejut, dengan kisah pertemuan anak bu Nyai dan menantunya.

Menurut cerita bu Nyai, si Ade ini dijodohkan oleh temannya yang baru dia kenal seminggu sebelumnya. Teman barunya ini katanya mempunyai seorang teman di Papua, duda beranak dua yang sedang mencari calon istri. Dia penduduk asli Papua pekerjaannya sebagai nelayan dan memiliki tanah garapan seluas satu hektar. Dia ingin mencari istri dari tanah Jawa, saya tidak sempat menanyakan pada bu Nyai mengenai alasan mengapa mencari istri dari tanah Jawa. Saat itu saya mulai merasakan tidak enak,  rasanya ada yang janggal. " Bapak kok dengan mudahnya menyerahkan putri bapak kepada orang yang belum pernah dikenalnya sama sekali untuk dijadikan istri ?" protes saya pada suami bu Nyai yang begitu berani menyerahkan putrinya kepada orang lain untuk dipersunting. Sebenarnya apa hak saya melarang seorang bapak menikahkan putrinya sendiri. Cuma saya tidak habis pikir saja dengan keputusan mereka.
" Ade sendiri yang mau dinikahkan, katanya bosan hidup miskin " ujar suami bu Nyai memberi alasan mengapa dia mau menikahkan anaknya dengan orang yang belum pernah ditemuinya. Bisa dimaklumi Ade memiliki alasan seperti itu, menurut cerita bu Nyai penyebab perpisahan Ade dengan suaminya terdahulu juga karena faktor ekonomi.
" Tapi si Ade nikahnya benar, bu ? " maksud saya nikah secara resmi ada buku nikahnya, terus keluarga calon suaminya itu datang.
" Iya benar ada pak Lebe (yang menikahkan), dia juga diantar serombongan orang-orang kulit hitam dengan rambut keriting-keriting " cerita bu Nyai sambil tersenyum. Saya masih ragu dengan penjelasan bu Nyai "menikah secara benar". Keraguan saya didasari apakah mereka menikah dengan resmi dan tercatat dalam hukum negara.

Selama perjalanan pulang saya masih memikirkan cerita bu Nyai. Tiba di rumah, kakak saya dan suaminya  pensiunan Depsos baru saja datang. Saya menceritakan kembali pada mereka kisah pernikahan anaknya bu Nyai. " Aduh......! semoga saja si Ade tidak menjadi korban trafficking " ujar kakak yang membuat saya bertambah cemas. Menurut cerita kakak, selagi dia masih belum pensiun menemui kasus-kasus seperti ini. Perempuan-perempuan Jawa banyak yang dijadikan wanita penghibur diluar Jawa dengan modus dinikahi terlebih dahulu. Mereka tidak sadar telah menjadi korban trafficking, karena setelah dinikahi akhirnya mereka dijual oleh suaminya sendiri untuk dijadikan wanita penghibur.  Lebih miris lagi kasus HIV disana itu tinggi sekali, melihat orang tergeletak begitu saja di jalanan karena mabuk bukan lagi merupakan pemandangan aneh. 

Saya terhenyak mendengar penjelasan kakak, berdoa semoga saja si Ade tidak menjadi salah satu korban trafficking. Yang membuat sedikit lega kedua anak perempuan Ade dari suami terdahulu tidak mau diajak ibunya ke Papua, mereka lebih memilih tinggal dengan neneknya. " Lebih baik suruh bapaknya si Ade bawa pulang kembali anaknya ke Jawa, sebelum semuanya terlambat " kakak saya memberi saran. Tapi Jawa - Papua itu jarak yang cukup jauh ongkosnya pasti mahal, darimana bu Nyai dan suaminya  memiliki ongkos untuk pergi ke Papua. Kemiskinan seringkali membuat seseorang memiliki cara berpikir pendek dan sempit. Kemiskinan dan kurangnya pendidikan bagai dua sisi mata uang yang membelenggu masyarakat kecil seperti keluarga bu Nyai.


Rabu, 21 Januari 2015

Tips Seputar ASI

Gambar diambil disini
Dua kali melahirkan Alhamdulillah produksi air susu cukup  banyak. Bahkan ketika melahirkan putra  pertama sempat menyusui bayi tetangga yang ibunya sakit , kebetulan jenis kelamin keduanya sama yaitu laki-laki. Dengan menyusui dua bayi sekaligus, saya harus bisa membagi waktu dan asupan makanan sehingga keduanya bisa mendapatkan asupan gizi cukup. Sekitar enam bulan saya menyusui bayi tetangga hingga ibunya sehat kembali, dan dinyatakan sembuh oleh dokter. Namun tetap menyusui si sulung hingga usianya dua tahun.

Kelahiran anak  kedua saya sempat frustasi ketika bayi tidak mau menyusu melalui puting ibu, padahal produksi ASI berlimpah. Yang menjadi penyebabnya selama saya masih di rumah sakit, pihak rumah sakit tidak memperkenankan  untuk menyusui dengan alasan " ibunya masih dalam pengaruh obat bius " setelah bius total saat operasi cesar. Untuk memberikan ASI, air susu diperas dan ditampung dalam botol baru diberikan pada bayi. Karena si bayi sudah terbiasa memakai botol selama 5 hari di rumah sakit, menyebabkan bayi mengalami "bingung puting" dan tidak mau menyusu pada ibunya setelah pulang ke rumah. Akibatnya setiap kali  lapar, bayi selalu menangis dan kebingungan karena dia tidak bisa menghisap ASI melalui puting. Kejadian ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan.

Saya sempat frustasi karena ASI yang dikeluarkan dengan cara diperas, keluarnya sedikit-sedikit dan memerlukan waktu cukup lama untuk mengumpulkannya. Waktu yang seharusnya saya pergunakan untuk istirahat akhirnya terpakai untuk memeras susu. Berkurangnya waktu istirahat sedikit banyak berpengaruh terhadap produksi ASI. Seringkali ASI yang terkumpul masih sedikit namun bayi sudah menangis akhirnya untuk memenuhi kebutuhannya "terpaksa" dibantu dengan susu formula. Saya berpikir dulu bisa menyusui dua bayi sekaligus dalam waktu bersamaan, mengapa sekarang tidak bisa ? Dengan bantuan suami dan kesabaran, setiap malam yang biasanya dibantu dengan susu formula saya biarkan bayi menyusu melalui puting. Awalnya  bayi menolak dan menangis namun tetap dicoba. Lama kelamaan dalam keadaan setengah mengantuk bayi akhirnya mau dan bisa menyusu melalui puting. Alhamdulillah kesabaran dan kerja keras itu berbuah manis, bayi sudah bisa menyusu dan tidak "bingung puting" lagi. 

Menyusui tidak hanya sekedar keinginan dan tekad tapi perlu juga diperhatikan seputar konsumsi ibu yang bisa membantu produksi ASI. Agar produksi dan kualitas ASI yang dihasilkan juga bagus. Selain beberapa makanan yang dipercaya bisa membantu produksi ASI, seperti daun katuk, pepaya muda, tahu dan tempe. Ada hal-hal lain yang perlu juga menjadi perhatian ibu menyusui, sehingga asupan gizi yang dibutuhkan bayi benar-benar terpenuhi.

Beberapa Tips Seputar Konsumsi Ibu Menyusui :
  • Perlu tambahan zat gizi tertentu, seperti : protein, kalsium, dan Fe harus memadai. Karena zat-zat tersebut dapat dikeluarkan melalui ASI.
  • Kecukupan kalori harus diperhatikan, karena setiap hari ASI yang dikeluarkan yaitu sebanyak kurang lebih 800 ml setara dengan 600 kkal energi/kalori yang dibutuhkan.
  • Batasi penggunaan obat atau ikuti petunjuk dokter.
  • Tidak boleh merokok, karena nikotin yang terkandung didalamnya akan meresap kedalam ASI.  Di tubuh bayi nikotin akan mengendap ginjal dan hati yang dapat mengakibatkan keracunan.
  • Hindari minum kopi kandungan kafein dalam kopi merangsang kerja ginjal lebih meningkat, akibatnya sering buang air kecil. Padahal selama menyusu ibu memerlukan cairan dalam jumlah banyak.
  • Dianjurkan untuk minum dalam jumlah banyak, 8 - 12 gelas sehari ( dalam bentuk air putih, susu atau juice buah ) untuk mengganti cairan yang banyak keluar.
  • Tambahan porsi makanan untuk ibu menyusui adalah : 2 gelas atau 280 gram nasi  (467 kal) , 1 potong atau 50 gram protein hewani ( 95 kal), 2 potong atau 50 gram protein nabati ( 80 kal ) dan 100 gram sayuran  (50 kal)
Air Susu Ibu ( ASI) adalah hak seorang anak, karena itu seorang ibu akan berusaha memberikan hak yang dibutuhkan anaknya di awal kehadirannya ke dunia. ASI merupakan makanan  terbaik yang dibutuhkan seorang bayi. Allah memberikan payudara pada setiap wanita pasti ada maksud dan tujuannya. Stigma yang mengatakan payudara "kecil" gersang akan produksi susu sedangkan payudara besar akan menghasilkan banyak air susu, merupakan salah besar. Payudara besar atau kecil sama-sama mampu menghasilkan ASI dalam jumlah cukup. Setiap ibu memang berbeda-beda produksi ASI-nya baik dalam jumlah maupun konsistensi, sehingga tidak ada alasan seorang ibu tidak bisa menyusui.


Referensi :  Payudara dan ASI, Dra. Emma S, Wirakusumah, M.Sc, Ahli Gizi

Selasa, 20 Januari 2015

Menanamkan Empati Pada Anak

" Bu, aku tadi membantu penjual koran yang koran nya berjatuhan, karena tertabrak seseorang. Habis itu kita ngumpulin uang yang masih tersisa kemudian diberikan pada kakek itu " cerita Zahra, si bungsu  sepulang dari Trans Mall. Zahra dan teman-temannya hari itu berencana membuat foto bersama dengan teman-teman pengajiannya karena sebentar lagi mereka akan menyelesaikan pendidikan MDA-nya.

Saya senang mendengar ceritanya telah menolong seorang kakek yang bermula dari ajakan salah seorang temannya. Walaupun setelah itu mereka harus pulang berjalan kaki, karena uang yang tadinya untuk ongkos pulang sudah diberikan pada kakek penjual koran. Kebetulan rumah tempat kami tinggal tidak jauh dari Trans Mall, anak-anak terkadang mengambil jalan pintas daripada harus memutar dengan menggunakan kendaraan umum. Bersyukur Zahra memiliki teman yang mengingatkannya untuk memiliki empati terhadap orang lain.

Sikap tidak perduli pada orang lain atau tidak memiliki empati sering kita temui pada orang dewasa. Saya pernah mengalami peristiwa harus berdiri didalam kereta api yang membawa kami pulang dari Solo ke Bandung. Ceritanya saat itu libur panjang, kami sekeluarga memutuskan untuk berlibur ke kota Solo dengan mengendarai kereta api. Saat pulang yang diperkirakan sudah tidak terlalu ramai ternyata didalam kereta masih sangat penuh. Management perkeretaapian belum seperti sekarang, masih dijual tiket walaupun sudah tidak ada lagi tempat duduk.

Didalam kereta sudah penuh sesak, hanya ada satu tempat duduk padahal kami berlima. Saya mengambil tempat duduk kosong, sementara anak-anak dan suami berdiri. Seorang bapak disebelah saya akhirnya berdiri memberikan tempat duduknya untuk si bungsu. Didepan saya duduk seorang bapak dengan pakaian TNI tanpa memperdulikan keponakan perempuan yang saat itu juga ikut bersama-sama tetap berdiri. Alhamdulillah di stasiun Lempuyangan Jogja banyak penumpang turun, baru disana kami bisa duduk semuanya.

Anak-anak saya sekolah di sekolah negeri, teman-teman mereka berasal dari kelas sosial berbeda. Ada yang berasal dari status sosial cukup tapi ada juga yang dari kelas " kurang mampu ". Dari berbagai perbedaan itu mereka belajar untuk memahami bahwa tidak semua orang memiliki nasib yang sama. Mungkin anak-anak saya memiliki nasib lebih baik bila dibandingkan dengan temannya yang kurang beruntung. Tapi saya ingatkan tidak semua orang seberuntung dirinya, agar mereka bisa mengerti dan memahami "kesulitan orang lain", ada hal-hal yang bisa mereka lakukan yang orang lain belum tentu bisa melakukannya. Itu pula yang saya tanamkan pada mereka jika ibunya berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Saya tetap mengantarkan mereka ke sekolah, menemani mereka diawal mereka masuk sekolah, mengambil raport saat pembagian raport. Dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membutuhkan kehadiran orang tua. Walaupun saat  saya ke sekolah selalu  menjadi tontonan anak-anak lain karena saya memakai tongkat. Saya tidak ingin anak-anak menjadi malu ketika ibunya berada ditengah teman-temannya.

Mengambil pelajaran dari seorang teman sesama difabel, yang tidak diperbolehkan ke sekolah oleh anaknya karena merasa malu. Dia malu dengan ibunya yang difabel, karena setelah itu selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya. Saya tidak ingin anak-anak saya seperti itu. Oleh karena itu, saya ajak anak-anak ke komunitas difabel tempat saya berkumpul, sehingga mereka bisa melihat banyak orang tua seperti ibunya,  akhirnya mereka bisa mengerti tidak semua orang seberuntung dirinya dikaruniai fisik sempurna. Sikap peka terhadap perasaan orang lain itulah yang saya harapkan bisa terus tertanam dalam diri anak-anak hingga mereka dewasa. Sekarang saya bersyukur Zahra  memiliki teman yang  mengingatkannya untuk memiliki empati pada orang lain.



Minggu, 18 Januari 2015

Ciri-ciri Anak Kecanduan Gadget

Gambar diambil disini
Liburan  kemarin keponakan-keponakan kumpul di rumah, tidak lupa mereka membawa gadgetnya masing-masing. Rupanya gadget sekarang sudah menjadi kebutuhan mereka, hingga saat liburan pun  tidak lupa membawa gadgetnya. Handphone, laptop, tablet, ipad lengkap semua dibawa. Sesaat mereka melupakan semua gadget yang dibawanya. Bercanda ria, saling melepaskan rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa ditelan kesibukan masing-masing. Liburan  menjadi saat yang penting untuk mempererat tali silaturahmi diantara mereka. Walaupun sejatinya mereka masih sering berkomunikasi melalui gadget masing-masing. Namun "direct contact" tetap saja diperlukan, dengan berkomunikasi langsung pasti ada perbedaan jika hanya berkomunikasi melalui gadget.

Terkadang hening, tidak terdengar tawa dan canda mereka. Saat ditengok, olala......mereka tengah asyik dengan gadget nya masing-masing. Rupanya gadget  tidak bisa dilupakan begitu saja ada saatnya mereka tetap " mengambil " waktu untuk " memainkan " gadget nya. Ini cermin generasi muda sekarang, generasi gadget. Hanya sayang dari pengamatan saya kemarin ada yang kelihatannya sudah mulai " kecanduan " dan sulit  melepaskan gadget nya. Bagaimana tidak kecanduan jika waktu tidur mereka menjadi berkurang,  waktu yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat mereka gunakan untuk terus memainkan gadget. Saat mandi, makan, terkadang waktu sholat pun tidak tepat pada waktunya, karena godaan gadget jauh lebih menarik perhatiannya. 

Bagaimana mengenali anak  kecanduan  gadget ? Yuk kita simak disini :
  1. Anak memiliki emosi negatif. Anak dengan ciri seperti ini biasanya sering merasa sedih, gelisah, marah ataupun takut. Akibatnya anak akan mencari media yang tepat dan mudah untuk dijadikan pelampiasan emosinya, salah satunya adalah gadget.
  2. Lebih senang menyendiri. Anak yang sedari kecil sudah sering menyendiri dan berwatak pemalu, rentan terhadap kecanduan gadget. Dengan karakter seperti itu, anak akan mudah merasa takut dan malu untuk bergaul dengan teman-temannya. Sehingga ia menganggap gadget sebagai teman. Dengan perilaku anak seperti ini orang tua diharapkan untuk lebih sering membawa anak bersosialisasi, dan meluangkan lebih banyak waktu bersamanya di rumah.
  3. Mudah terdistraksi. Salah satu ciri anak mulai kecanduan gadget anak akan lebih mudah bingung atau terganggu. Hal ini bisa terjadi karena fokus perhatian anak lebih kepada gadget.
  4. Anak menjadi impulsif.  Ketika anak kecanduan gadget ia akan lebih fokus pada gadgetnya. Akibatnya ketika ia merasa terganggu emosinya akan lebih mudah meledak. Untuk menghadapinya orang tua perlu lebih sering mengalihkan perhatian anak pada kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan sekitar. Seperti berolahraga, bermain bersama atau membaca buku.
Perlu diakui bahwa gadget memberikan banyak manfaat untuk pemakainya, namun  perlu diingat pula bahwa kecanduan terhadap gadget bisa membawa dampak negatif. Terutama untuk anak yang masih balita. Anak-anak seusia itu masih belum bisa membedakan mana yang menjadi tugas pokoknya dan mana yang hanya untuk mengisi waktu luangnya. Disini diperlukan peranan orang tua untuk mengawasi pemakaian gadget sehingga tidak menjadikan anak  kecanduan. Karena apapun itu jika dipakai secara berlebihan akan memberikan efek negatif, yang perlu diperhatikan adalah  tetap bijak  memakai gadget hingga memberikan lebih banyak manfaat dengan menghilangkan dampak negatifnya. 

Setiap orang tua akan selalu memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. Begitu juga dengan gadget, orang tua dengan kondisi ekonomi berlebih akan membekali anak-anak nya dengan gadget. Bahkan banyak diantara mereka menjadikan gadget sebagai mainan utama untuk membuat anak tenang. Terkadang demi menunjukan status sosial, orang tua akan membekali anak gadget mahal yang biasanya dilengkapi fitur-fitur lengkap. Padahal belum tentu anak tahu cara memaikannya dan membutuhkan gadget super canggih tersebut. Gadget untuk sebagian orang sudah merupakan kebutuhan, namun jangan sampai kebutuhan itu menjadi suatu kecanduan yang memberikan dampak negatif.







Senin, 22 Desember 2014

Isyarat Rindu Mak Iah, Sang Ibu Asuh


Dalam rangka memperingati hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2014, keluarga besar Kumpulan Emak Blogger (KEB) mengajak para Emak anggota KEB untuk menceritakan sosok ibu diluar ibu kandung yang dekat dengan kehidupan para Emak. Sosok ibu diluar ibu kandung yang dekat dengan kehidupan saya adalah Mak Iah. Beliau pengasuh saya ketika kecil yang sudah  seperti ibu kedua selain ibu kandung tentunya. Kini Mak Iah sudah tidak ada lagi dalam kehidupan saya. Setahun yang lalu Sang Pencipta telah memanggilnya pulang kembali dalam usia 89 tahun. Namun sosok Mak Iah tidak akan pernah hilang dan selalu menjadi bagian sejarah penting dalam kehidupan saya.

Sebagai anak kesebelas dari tiga belas bersaudara ( 11 perempuan dan 2 laki-laki ), usia dua tahun saya sudah bisa berjalan. Tetapi virus polio merubah seluruh garis hidup saya menjadi seorang difabel. Kedua kaki mulai dari pinggul kebawah lumpuh dampak dari virus  tersebut.  Selama masa pengobatan panjang dan melelahkan Mak Iah hadir dalam kehidupan keluarga besar kami. Meskipun usia saya masih sangat kecil, samar-samar sudah bisa mengingat bagaimana dulu Mak Iah yang selalu menggendong kesana kemari untuk menjalani proses pengobatan. Mak Iah juga yang banyak menemani kehidupan sehari-hari saya. Sebagai seorang wirausahawan Ayah sibuk dengan pekerjaannya demikian juga ibu lebih banyak berada di toko kelontongnya. Praktis Mak Iah yang lebih banyak menemani saya di rumah. Hubungan kami sudah seperti ibu dan anak, bukan lagi terbatas pada hubungan antara pengasuh dan anak asuhnya.

Mak Iah dan keluarganya tinggal tidak jauh dari tempat tinggal saya. Hampir setiap hari saya lebih banyak bermain bersama anak-anak Mak Iah di rumahnya. Mak Iah memiliki empat orang anak, bersuamikan seorang pegawai kecil di PINDAD. Diluar jam kerjanya, Bapak ( demikian saya memanggil suami Mak Iah) membuat petasan yang selalu disimpannya di kolong tempat tidur untuk setiap petasan yang sudah selesai dibuat. Saya juga bisa merasakan kasih sayang Bapak dan anak-anak Mak Iah. Terkadang karena suatu kesalahan saya dan kemudian dimarahi orang tua, saya akan berlindung di pelukan Mak Iah. 

Setelah Bapak meninggal dunia dan anak-anaknya bisa berdiri sendiri, Mak Iah memutuskan untuk tidak ikut bersama-sama dengan kami lagi. Mak Iah dan keluarganya pindah rumah agak jauh dari tempat tinggal kami. Walaupun rumah saya dan Mak Iah berjauhan, namun secara rutin paling tidak seminggu sekali Mak Iah masih sering datang menjenguk saya. Demikian pula jika saya rindu padanya maka  akan datang menemuinya. Hingga saya menikah dan memiliki anak Mak Iah masih sering menjenguk. Saya memperkenalkan Mak Iah pada anak-anak sebagai nenek kedua.

Sampai suatu ketika dalam setiap kegiatan sehari-hari saya selalu mendengar suara orang menangis.
 " Suara tangisan seorang perempuan begitu jelas terdengar. Semakin hari suara tangisan yang terdengar semakin keras. Kucari-cari siapa yang sedang menangis dengan mengikuti arah datangnya suara. Tetapi tidak tampak seorangpun yang sedang menangis. Hampir setiap hari suara tangisan itu selalu menggema mengisi seluruh ruangan namun tidak terlihat seorangpun disana, hanya ada saya seorang. Lalu siapakah yang  sedang menangis ? mengapa suara tangisannya begitu jelas terdengar dan semakin hari semakin kencang ? "

Kuceritakan semua yang saya dengar pada suami, tentang suara tangisan  yang terasa begitu dekat sekali di telinga. " Mungkin Mak Iah sedang rindu pada Mama, nanti kita tengok bukankah sudah lama pula kita tidak menengoknya ? Dia memberi isyarat melalui suara tangisan yang mama dengar padahal tidak ada satupun disekitar mama yang sedang menangis !" ujar suami. Karena kesibukan saya dan faktor usia Mak Iah. Membuatnya sudah tidak mampu bepergian seorang diri. Inilah yang membuat rentang pertemuan saya dan Mak menjadi berkurang.


Keesokan harinya ditemani suami, saya mendatangi rumah Mak Iah. Seperti dugaannya  Mak Iah memang  sudah sangat merindukan kedatangan kami. Begitu dilihatnya saya telah berada di depannya Mak Iah langsung memeluk dalam tangisan penuh haru, pelukannya begitu hangat dan lama seolah tidak ingin melepaskannya lagi. " Hatur nuhun Gusti tos ngabulken kana pamenta abdi, nu di penta beurang peuting ayeuna tos nyampak dipayunen " ( terima kasih Allah sudah mengabulkan permintaan saya, permohonan  siang malam telah Engkau kabulkan ). Ucap Mak Iah yang membuat saya meneteskan air mata, begitu dalam rasa rindu yang dia pendam untuk saya. Ternyata benar suara tangisan yang selama ini sering saya dengar adalah sebuah isyarat rindu dari Mak Iah.  " Maafkan saya Mak, telah membuat Mak harus menunggu begitu lama untuk bisa memeluk saya ".

Kini Mak Iah telah beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya. Beliau memang bukan ibu yang mengandung dan melahirkan saya tapi kasih sayang dan perhatiannya untuk saya begitu besar dan dalam layaknya ibu kandung.  Cinta dan sayangnya  tidak bisa hilang dan terlupakan begitu saja oleh saya. Beliau akan tetap menjadi ibu untuk saya disamping ibu kandung yang telah mengandung dan melahirkan saya. Beristirahatlah dengan tenang Mak, bait-bait do'a Insya Allah akan kukirimkan untuk Mak di Surga.

Saya dan Mak Iah






Jumat, 19 Desember 2014

Bukan Suami Romantis

" Papa ini orangnya enggak romantis banget deh. Sekali-kali bikin pesta kejutan atau berikan hadiah untuk Mama. Bisa makan malam berdua kek,  belikan kado  atau ajak  Mamanya jalan-jalan. Masa Mama dibiarkan di rumah saja kan bete " komentar si sulung pada Ayahnya yang membuat saya tersenyum. Setiap hari selalu ada saja yang jadi bahan pembicaraan Rangga, si sulung. Mulai dari dosen-dosennya di kampus, klub basketnya, teman-teman kuliahnya hingga percaturan politik yang lagi hangat saat ini. Anak ini dari kecil memang sudah ramai. Setiap pulang sekolah dia selalu pulang dengan membawa segudang cerita tentang kegiatannya di sekolah hari itu. Kali ini yang menjadi topik pembicaraan adalah sifat Ayahnya yang menurutnya " Kurang Romantis ".

Suami memang bukan tipe suami romantis yang selalu memberi kejutan untuk istrinya. Dulu diawal pernikahan kami, saya seringkali kesal karena dia selalu lupa dengan hari ulang tahun saya atau hari ulang tahun pernikahan kami. Jangankan memberi kado, diingatpun tidak. " Dalam keluarga saya hari ulang tahun bukan sesuatu yang istimewa. Jadi tidak pernah ada perayaan khusus, apalagi dengan membelikan kado " demikian pembelaannya saat saya melakukan protes. Berbeda dengan kebiasaan dalam keluarga besar saya. Ulang tahun atau hari penting lainnya kami jadikan sebagai hari berkumpul keluarga dan saling mengungkapkan kasih sayang. Ibu almarhum, setiap tahun selalu mengumpulkan anak, mantu, cucu dan cicitnya  pada setiap peringatan hari ulang tahunnya. Keluarga suami  tidak pernah melakukan hal serupa. Perbedaan kebiasaan ini  terbawa dalam kehidupan kami yang sekarang. Sehingga kami juga tidak pernah membuat acara khusus untuk hari ulang tahun anak-anak.

Kegiatan saya sekarang memang lebih banyak dilakukan didalam rumah mungkin itulah yang dilihat oleh Rangga. Sehingga terlontar protes untuk Ayahnya yang meminta Mamanya sekali-kali dibawa jalan-jalan makan malam berdua diluar. Dulu, sebelum menikah kegiatan saya memang lebih banyak dilakukan diluar rumah. Sebagai seorang pengurus  organisasi difabel membuat saya lebih banyak keluar rumah saat itu. Namun setelah menikah saya memutuskan untuk berhenti total dan lebih memilih untuk mengurus anak dan suami. Memang terkadang terbersit keinginan untuk aktif kembali seperti dulu. Apalagi sekarang anak-anak sudah besar, sudah mandiri dan tidak banyak bergantung pada orangtua. Ditambah suami juga mendorong untuk aktif kembali jika saya menghendaki. Pertemuan kami pun terjadi setelah saya menyelesaikan acara Musyawarah Nasional di salah satu kota. Sehingga dia tahu persis jika dulu  saya termasuk orang yang aktif dan tidak bisa  hanya berdiam diri di rumah. Tapi keinginan itu pupus karena tidak ingin kehilangan banyak waktu berkomunikasi dan bertemu dengan anak-anak dan suami. Lagipula mengabdi untuk sesama tidak  selalu  harus keluar rumah tapi bisa juga lewat tulisan yang akhir-akhir ini mulai saya tekuni. 

Hampir dua puluh tahun  saya mengabdikan hidup untuk anak dan suami. Perbedaan-perbedaan yang timbul antara saya dan suami mulai berkurang. Tapi bukan berarti hilang sama sekali. Seperti yang Rangga katakan Ayahnya kurang romantis karena jarang memberikan kado, membuatkan pesta kejutan, mengajak ibunya jalan-jalan bukan lagi suatu hal penting untuk saya. Secangkir teh hangat di pagi hari atau pijatan lembut disaat sedang cape itu sudah merupakan hal paling romantis untuk saya. Melihat suami dan anak-anak sehat dan bahagia itu juga sudah merupakan kado  paling istimewa. Makan malam berdua di sebuah restoran mahal atau perhiasan mewah sekalipun, tetap tidak ada artinya jika saya kehilangan banyak waktu berdua dengan suami untuk saling memberi dan mencurahkan kasih sayang. Keromantisan tidak bisa diukur dari benda mahal , pesta kejutan atau seringnya jalan-jalan keluar kota/negeri. Kasih sayang utuh yang diberikan oleh pasangan, saling menjaga dan memberikan perhatian ini  jauh lebih romantis. Hal seperti ini yang belum terlalu dipahami oleh anak seusia Rangga saat ini. Jika sudah mencapai umur kedewasaannya, Rangga akan mengerti bahwa romantis itu tidak identik dengan kado atau pesta kejutan.


Rabu, 17 Desember 2014

Etika Bertetangga

Tetangga adalah orang terdekat kedua setelah keluarga. Tetapi tetangga juga bisa jadi  yang pertama dicari saat dibutuhkan jika keberadaan saudara-saudara jauh dengan kita.  Tetangga bisa juga menjadi yang pertama dihubungi  untuk kita bagi kebahagiaan. Namun apa jadinya jika memiliki tetangga " menyebalkan ". Rasanya  ingin segera pindah atau tetangga itu sendiri pindah menjauh dari kehidupan kita.

" Mama dan Papa pernah bertengkar tidak ? " pertanyaan si sulung  suatu ketika yang membuat saya terkejut. 
" Adakalanya Mama dan Papa juga bertengkar.  Memang kenapa kok tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu ? ". Terus terang sedikit terkejut mendengar pertanyaan si sulung yang tidak biasanya.
" Tapi aku tidak pernah melihat Mama dan Papa bertengkar seperti tetangga disebelah kita ". Olala......jadi itu sumber pertanyaannya.
" Karena Mama dan Papa tidak pernah bertengkar didepan anak-anak " .
Kebetulan tetangga disebelah keluarga kami seringkali ribut tanpa memperhatikan situasi dan kondisi. Terkadang siang hari, adakalanya juga malam hari.  Anak-anak seringkali mendengar  dan melihat pertengkaran mereka.
" Kasihan ya Ma, anak-anak mereka " komentar si sulung yang sering melihat anak-anak tetangga ketakutan jika orang tuanya tengah ribut. Tidak terbatas pada keributan, tetangga yang satu ini juga orangnya tidak pernah perduli dengan lingkungan sekitarnya. Dan gayanya itu alamak.........! sebatang rokok tidak pernah lepas terselip di jari si Nyonya.

Lain lagi ceritanya dengan tetangga yang berada jauh dari tempat tinggal saya, namun cukup mengganggu ketenangan saya dan suami. Kami berdua di titipi rumah untuk dikontrak. Tetangga disebelah rumah tersebut kebetulan anggota dewan yang terhormat, tetapi perilakunya sungguh tidak terhormat. Rumahnya ini berada dalam satu komplek perumahan. Dimana satu dinding dengan yang lainnya saling menyatu. Kebetulan disebelah kiri rumah adalah seorang anggota dewan tetapi perilakunya sungguh "menyebalkan". Sewaktu yang bersangkutan merenovasi rumahnya menjadi  tingkat. Dia tidak pernah meminta ijin apalagi berjanji akan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat pembangunannya pada tetangga sekitar. Akibat dari pembangunan rumahnya, rumah kami yang bersebelahan dengannya mengalami kerusakan yang cukup parah. Tidak ada permintaan maaf dan ganti rugi sama sekali dari sang anggota dewan yang terhormat tersebut. Padahal kerusakannya sangat parah, sehingga kami memutuskan untuk merenovasi rumah total.

Situasi berbalik, giliran rumah kami di renovasi  yang bersangkutan mencak-mencak, padahal sebelumnya kami sudah minta ijin dan jika terjadi kerusakan akibat dari renovasi maka akan diperbaiki kembali. Setelah rumah selesai, kami berniat untuk memperbaiki rumahnya yang sedikit mengalami kerusakan ekses dari renovasi dengan membawa tukang. Dia menolak dengan  alasan, hanya akan diperbaiki oleh tukangnya  sendiri. Ok, perjanjian itu kami sepakati. Di kemudian hari permintaannya berubah, tidak ingin diperbaiki dengan tukangnya sendiri tetapi tukang kami. Itu juga kami sepakati , permintaan itu juga berubah ujung-ujungnya yang bersangkutan meminta ganti rugi dengan sejumlah uang. Masya Allah.....! tidak ingin masalah ini berkepanjangan akhirnya kami sepakati permintaannya. Dengan "terpaksa" Rp. 7.000.000 (tujuh juta rupiah) kami berikan padanya sebagai ganti membeli cat dan membeli semen untuk memperbaiki keretakan sedikit yang jika kami perkirakan kerusakannya tidak lebih dari Rp. 4.000.000 ( empat juta rupiah).

Kita tidak bisa memilih dengan siapa bertetangga. Dimanapun tinggal pasti akan ada orang yang mungkin saja "menyebalkan ". Karena orang-orang seperti itu bisa berada dimana saja. Tempat tinggal saya bukan berada dilingkungan komplek perumahan yang dikenal lebih kekeluargaan. Tetapi tetap ada tetangga yang "menyebalkan" di kawasan perumahan juga tetap ada tetangga yang "menyebalkan".

Untuk menjadi tetangga yang baik, ada baiknya setiap penghuni kampung/perumahan memiliki etika bertetangga yang baik. Agar suasana lingkungan menjadi lebih nyaman, tidak saling menyakiti namun saling menjaga dan menghormati, seperti :
  1. Menghormati tetangga dan berperilaku baik terhadap mereka. 
  2. Pada saat membangun, hendaknya tidak  mengganggu tetangga , tidak membuat mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, tidak melampaui batasnya apalagi sampai merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaannya.
  3. Hendaknya memelihara hak-haknya disaat mereka tidak di rumah. Menjaga harta dan kehormatan tetangga dari tangan-tangan  jahil. Mengulurkan  bantuan dan pertolongan, menjaga rahasia aib tetangga.
  4. Tidak melakukan suatu kegaduhan. Seperti suara radio atau televisi,  mengganggu tetangga dengan melempari halamannya dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. 
  5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran. Ajak mereka berbuat  makruf dan mencegah yang mungkar. Berlaku bijaksana (hikmah) dengan memberi nasehat baik tanpa bermaksud untuk menjatuhkan.
  6. Saling memberikan makanan dan oleh-oleh kepada tetangga jika ada. 
  7. Turut bersuka cita dalam kebahagiaannya dan berduka cita dalam dukanya. Menjenguknya dikala sakit, tanyakan kabar jika tidak melihatnya. Sekali-kali boleh juga mengundang tetangga ke rumah. 
  8. Tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan tetangga dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya  tidak memandang kekeliruan dan kealpaannya.
  9. Bersabar atas perilaku kurang baik tetangga terhadap kita. 

Rabu, 10 Desember 2014

Perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan perempuan biasa-biasa saja

Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan bila dibandingkan dengan perempuan dengan wajah biasa-biasa saja. Demikian yang saya dengar dari sebuah radio. Mendengarkan radio saat bekerja menjadi kebiasaan saya sehari-hari. Disamping membuat suasana lebih rilex juga bisa mendapatkan berbagai informasi yang bisa dijadikan materi untuk mengisi blog tanpa meninggalkan aktifitas pekerjaan sehari-hari.

Penasaran dengan hasil penelitian tersebut apa saja yang menjadi parameter penelitian sehingga ditarik satu kesimpulan yang mengatakan jika : " Perempuan cantik lebih mudah memperoleh pekerjaan bila dibandingkan  perempuan dengan wajah biasa-biasa saja " saya mulai googling untuk memperoleh  informasi lebih detail.

Sekelompok ilmuwan Amerika Serikat melakukan penelitian dengan menelusuri kehidupan para siswa sebuah sekolah di Wisconsin, Amerika Serikat. Juga kehidupan para siswa setelah lulus dari sekolah. Parameter yang diamati adalah penampilan, kerja individu, sosial dan sebagainya. Lebih detail lagi hasil penelitian tersebut menyebutkan perempuan berpenampilan cantik secara fisik lebih dominan dalam memperoleh kesuksesan. Seperti mendapatkan pekerjaan  lebih baik dengan jabatan bergengsi, serta gaji yang cukup tinggi. Kariernya juga lebih cepat menanjak tanpa dipengaruhi oleh kemampuan IQ mereka.

Bahkan meski kecantikan mereka mulai luntur karena usia, mereka masih mampu mendapatkan kesuksesan. Sedangkan mereka yang memiliki wajah biasa-biasa saja kalah bersaing dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Menurut penelitian ini pula mereka yang memiliki wajah cantik lebih percaya diri untuk memancing interaksi dengan orang lain dengan memanfaatkan kecantikannya. Sehingga membuat mereka dengan wajah cantik lebih mudah bersosialisasi.

Apakah hasil penelitian ini membuat perempuan dengan wajah biasa-biasa saja menjadi rendah diri ? Tentu saja tidak karena sejatinya Yang Maha Pencipta menciptakan semua  umatnya dengan sempurna. Mereka yang memiliki wajah cantik  adalah anugerah atau bonus dari sang Maha Pencipta. Namun bukan berarti mereka yang memiliki wajah biasa saja juga tidak memperoleh bonus. Kelebihan yang tidak dimiliki perempuan cantik itulah yang menjadi bonusnya. Karena dibalik setiap kekurangan setiap manusia pasti ada kelebihannya. Kelebihan ini yang harus dicari oleh setiap insan untuk menutupi kekurangan yang ada. Sehingga membuat seorang perempuan biasa-biasa saja bisa terlihat cantik dan menarik yang bisa menaikkan nilai tawar.

Menjadi cantik adalah idaman setiap orang. Namun ketika Sang Maha Pencipta mentakdirkan seseorang untuk memiliki fisik tidak sempurna atau tidak cantik bukan berarti akhir dari segalanya. Siapapun dia masih bisa terlihat cantik kuncinya adalah rasa percaya diri.

Selasa, 09 Desember 2014

Benda yang wajib dibawa saat berangkat kerja atau bepergian

Benda apa saja yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja atau bepergian ? pasti jawabnya berbeda-beda tergantung dari kepentingan dan ketergantungan yang bersangkutan terhadap benda tersebut.  Seorang teman mengatakan benda yang wajib dibawa pada saat berangkat kerja adalah perlengkapan make up. Pernah suatu kali perlengkapan make up-nya tertinggal di rumah. Karena dia merasa tidak percaya diri tanpa perlengkapan make up tersebut, walhasil dia menyempatkan diri mencari mini market yang tidak jauh dari tempatnya bekerja untuk mencari bedak, lipstik eye liner, eye shadow, dan pelentik bulu mata. Jika dilihat apa yang dilakukan oleh teman saya itu boros ya ! sampai harus membeli lagi perlengkapan make up karena rasa kurang percaya diri. Namun hal tersebut bisa dipahami mengingat dunia kerjanya berhubungan dengan promosi produk-produk kecantikan. Jadi wajar saja  dia merasa kurang percaya diri ketika harus berhadapan dengan client tanpa sentuhan make up.

Lain lagi cerita teman pria yang tidak bisa lepas dari telpon genggam/handphone. Handphone adalah benda  wajib yang tidak boleh tertinggal pada saat berangkat kerja. Menurutnya tanpa handphone di tangannya semua pekerjaannya berantakan. Mengapa sekarang ketergantungan orang terhadap handphone begitu tinggi ? Padahal dulu sebelum " benda ajaib itu ada " semuanya fine-fine saja. Siapapun tidak perlu panik yang berlebihan tanpa adanya handphone semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Begitu tingginya ketergantungan seseorang pada handphone seorang teman mengatakan " serasa memasuki jaman batu jika tanpa handphone ditangan "

Benda apa yang wajib saya bawa ketika hendak bepergian ? yang pasti adalah dompet. Tidak terbayang jika bepergian tanpa membawa dompet, apalagi jika perginya dengan menggunakan kendaraan umum. Mengapa harus dompet ? teringat kejadian pada saat kuliah dulu ketinggalan dompet dirumah. Karena terburu-buru tidak sempat memeriksa kembali jika dompet sudah dimasukkan kedalam tas, baru tersadar saat hendak membayar ongkos angkot. Untung sang sopir baik hati sehingga saya terbebas untuk tidak membayar. Setelah kejadian tersebut membuat saya lebih teliti dan selalu memeriksa terlebih dahulu apakah dompet sudah masuk sebelum pergi.

Benda apa yang wajib dibawa pada saat bepergian tergantung pada kebutuhan masing-masing. Untuk seorang ibu yang memiliki bayi mungkin benda yang wajib dibawanya adalah botol susu dan popok. Untuk seorang ayah bisa jadi handphone atau kunci. Bisa kunci mobil, rumah atau motor.  Benda apapun yang wajib dibawa hendaknya tidak mengurangi rasa percaya diri jika benda tersebut tertinggal. Dan tidak menjadikan benda tersebut sebagai benda keramat yang wajib dibawa kemanapun juga.




Selasa, 02 Desember 2014

Kubungkus Rinduku Dengan Istighfar

Peristiwa itu terjadi kira-kira tujuh puluh hari yang lalu, aku membungkus rasa rindu dengan memperbanyak istighfar dan mengunjungi tempat peristirahatannya yang terakhir. 

Senja mulai turun, satu persatu jendela rumah kututup. Jendela dari bangunan rumah tua dengan daun jendela terbuat dari kayu yang terbuka lebar. Dibagian dalam terdapat dua daun jendela dari kaca dengan bingkai kayu disekelilingnya. Sebagian orang yang melihatnya memintaku untuk mempertahankan bentuknya. " Antik " demikian alasan mereka. Bentuk jendela yang jarang dimiliki untuk bangunan rumah dijaman sekarang ini.  " Tini, tolong tutupkan jendela kamar ibu " demikian ucap beliau jika mengalami kesulitan saat menutup jendela kamarnya. Hari ini untuk kesekian kalinya setelah beliau tiada aku masih melakukan hal yang sama. Melangkah masuk kedalam kamarnya yang masih sama seperti sebelumnya. Masih memiliki aroma yang sama, masih terlihat rapih, masih belum banyak perubahan. Yang membedakan hanyalah kini sudah tidak ada lagi penghuninya. Kamar itu masih dibiarkan kosong, dan aku masih harus menahan gejolak rindu setiap kali kulangkahkan kaki kesana.

Matahari masih sedikit menyembulkan sinarnya saat aku mulai berdiri didepan jendela dengan daun jendela yang terbuka lebar. Kuhirup udara sore dari luar, kupejamkan mata. Aroma harum tubuh ibu masih bisa kuingat jelas. Aroma parfum flora itulah  kesukaannya.  Kutatap pohon jambu batu milik tetangga yang tengah berbuah lebat dari balik jendela kamar ibu. Pohon jambu yang dulu sering membuat masalah karena daunnya yang berguguran seringkali jatuh tepat diatas genting kamar ibu dan menghambat saluran air.  Menyebabkan kebocoran didalam kamar. Berulang kali ibu meminta pada pemilik rumah untuk memangkas pohonnya sedikit tapi tidak pernah digubris. Alhasil jadilah kami siap-siap menerima kebocoran jika hujan lebat dan air tidak lancar mengalir.Kulihat seseorang berada diatas pohon tengah memanen buahnya. 

Seusai menutup jendela aku menghempaskan tubuh diatas pembaringannya. Kuedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan kamar tidur dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Kuamati satu persatu yang ada didalamnya. Satu buah foto wisuda adikku masih tergantung ditempatnya. Begitu pula satu buah foto ibu saat masih muda bersama adik dan sepupunya juga masih berada ditempatnya. Dan satu buah foto kedua orang tuaku saat mereka masih muda juga masih berada pada posisi yang sama. Kubuka dua lemari pakaian ibu " kosong" hanya tertinggal beberapa mukena yang sengaja tidak kami berikan sebagai kenang-kenangan dari beliau. Dua lemari pakaian itu dulu penuh dan selalu terkunci. Tanpa kami ketahui beliau sudah terlebih dahulu memberikan sebagian pakaiannya pada yang lain sebelum kematiaannya tiba. Berbagi dan bersodaqoh dua pelajaran yang kami petik dari kebiasaannya sepanjang hidup.

Aku tak sanggup untuk lebih lama lagi berada didalam kamar itu. Dadaku terasa sesak menahan gejolak dan luluhan bulir-bulir halus dikelopak mata. Kulangkahkan kaki  keluar kamarnya. Saat hendak menutup pintu kupandangi foto-foto yang terbingkai rapih tepat didepan kamarnya. Itulah deretan foto cucu dan buyut-buyut  sebagai obat rindu untuknya. Pada saat bersamaan terdengar kumandang azan dari mesjid yang berada tidak jauh dari rumah kami. Setelah waktu maghrib seperti inilah tidak pernah terlewatkan kudengar alunan suara ibu mengaji. Kini aku hanya bisa mendengar suara itu lewat ingatan yang terus kupupuk.

" Setelah teman-teman 'Ne ( begitu panggilanku pada ibu ) satu persatu dipanggil pulang oleh Allah SWT, kapan giliran 'Ne " demikian kalimat yang sering diucapkannya manakala satu persatu teman-temannya berpulang untuk selama-lamanya. Kerinduannya untuk bertemu dengan sang Pencipta rupanya sudah tidak bisa dibendung. Walaupun perpisahan itu pasti terjadi namun nyatanya aku masih terkejut. 


Sekali lagi kubungkus rinduku dengan istighfar dan kuantarkan sejumput doa untuk kedua orang tuaku di surga, Aamiin.....



Dok. pribadi


Menuju peristirahatannya yg terakhir








Selasa, 18 November 2014

BBM naik (lagi), mengapa harus panik !

Foto diambil dari google
Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali naik untuk yang kesekian kalinya. Setiap kenaikan BBM selalu disertai dengan berbagai gejolak di masyarakat. Demonstrasi yang menolak kenaikan BBM terjadi dimana-mana, ada yang tertib namun tidak sedikit pula yang berujung anarkis. Dan mengganggu ketertiban umum. Bagi para ibu rumah tangga kenaikan BBM ini tentu saja merepotkan, karena sudah bisa ditebak harga kebutuhan pokok juga ikut melambung dengan alasan kenaikan BBM. Padahal tidak sedikit dari mereka para pedagang yang telah lebih dulu menaikkan harga sebelum harga BBM resmi diumumkan pemerintah. Sehingga  pada saat  harga BBM benar-benar naik mereka juga ikut-ikutan menaikkan harga kembali. Tentu saja dengan keuntungan yang berlipat.  Mengapa keserakahan manusia dengan mengambil keuntungan dari kesulitan dan keterjepitan orang lain tidak pernah berubah. Mungkin memang sudah dasar dari sifat manusia itu sendiri yang selalu tidak pernah  merasa puas dengan apa yang diperolehnya.

" Tidak usahlah menjadi panik setiap kali ada kenaikan BBM. Yang penting Allah Azza Wa Jalla masih memberi rejeki untuk kita bisa membelinya " demikian ujar suami setiap kali saya mengeluhkan kenaikan BBM. Suami selalu begitu memandang segala sesuatu dengan santai, segalanya tidak pernah dibuat ribet. " Rejeki itu sudah ada yang mengatur, yang penting kita masih mau berusaha dan yakin Allah akan membukakan pintu rejekiNYA " Tidak perlu juga kita ikut-ikutan antri seperti yang lain untuk memperoleh selisih harga. Coba bandingkan selisih harga  dengan waktu yang terbuang untuk antri, apakah cukup sepadan ? Toh keesokan hari dan seterusnya juga pasti membeli BBM dengan harga yang sudah naik.

Kebanyakan dari kita yang terbiasa hidup dengan berlimpah materi sering lupa bersyukur dan mengeluh dengan dikuranginya kenyamanan. Contohnya kenaikan BBM otomatis akan mengurangi jumlah kenikmatan yang diperoleh dengan nilai yang sama diwaktu lalu. Tapi tahukah jika didaerah pelosok yang jauh dari ibu kota seperti di pelosok kota Kupang orang cuci rambut, cuci baju, cuci piring sabunnya sama yaitu detergen. Mereka tidak terpengaruh dengan kenaikan BBM yang penting mereka dapat listrik dan masih bisa makan sehari-hari. Jadi mengapa kita harus panik apalagi sampai stres. Anggaplah kenaikan BBM ini sebagai ujian untuk menguji kita juga sebagai penghapus dosa atas keresahan yang dialami.

Yang penting patut kita yakini bahwa rejeki kita telah ditetapkan oleh Allah Azza Wa Jalla. Jatah rejeki yang telah Allah tetapkan tidak akan berkurang dan bertambah karena kenaikan BBM. Namun demikian kita harus tetap bekerja menjemput rejeki, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui seberapa besar jatah rejeki kita yang sudah Allah tentukan. Tidak perlulah kenaikan BBM dimaknai sebagai kesempitan dan berkurangnya jatah rejeki. Tapi maknai kenaikan BBM ini untuk kita lebih bertakwa kepada Allah, seperti yang tertulis dalam  QS At Thalaq ayat 2 - 3 yang berbunyi : " Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan jalan keluar. Allah akan berikan rejeki dari jalur yang tidak mereka perhitungkan ".

Kamis, 13 November 2014

Jejak Hidup Sang Bunda Untuk Anak, Cucu Dan Cicit

Kesedihan yang dialami seorang anak karena ditinggalkan oleh ibunya, orang yang sangat penting dalam hidupnya akan dialami oleh siapapun. Kesedihan seperti ini yang kurasakan setiap menjelang waktu maghrib dan subuh. Karena pada waktu-waktu tersebut hampir setiap hari suara alunan kalam Illahi tidak pernah lepas beliau lantunkan. Tiada hari tanpa membaca itulah yang selalu beliau lakukan, buku apa saja akan dibacanya namun yang tidak pernah lepas beliau baca  yaitu  ayat-ayat suci Al Qur'an. 

Meskipun usianya sudah hampir 86 tahun tetapi kesukaannya membaca tidak pernah berkurang. Menurut penuturannya dengan membaca penglihatannya semakin terang bukan berkurang. Dimulai dari kebiasaannya membaca, kemudian saya sering melihatnya tengah menulis. Beberapa bulan terakhir sebelum kepergiannya ibu sering terlihat tengah menulis diatas mesin jahit yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Entah apa yang ditulisnya setiap ditanya beliau hanya tersenyum.
Baru belakangan kuketahui beliau tengah menuliskan kisah perjalanan hidupnya yang belum sempat diselesaikan. Sang Pencipta telah terlebih dulu memanggilnya sebelum sempat menyelesaikan tulisannya. Inilah kisahnya......


Cerita ibunda yg ditulis tangan dg ejaan lama

Alhamdulillah Wasukurillah, kita panjatkan puji dan syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai kenikmatan yang terkadang kita lupa mensyukurinya. Oleh karena itu melalui tulisan ini Ene (panggilan kami untuk ibunda ) berharap semoga anak , cucu dan buyut Ene kelak menjadi orang-orang soleh yang selalu mensyukuri nikmat dari-NYA.

Tanggal 28 Oktober 1928  lahirlah seorang anak perempuan dari seorang ibu bernama Aisyah dan bapak Tanuwisastra, didaerah Tanjungsari kabupaten Sumedang dan diberi nama Kartini. Nama yang sama dengan tokoh perjuangan wanita Indonesia, mungkin Abah dan Ema berharap suatu saat Ene juga akan mempunyai sifat pejuang seperti Ibu RA. Kartini. Ene sehari-hari biasa dipanggil Atin.

Dua tahun kemudian tahun 1930 , Ene lupa tanggalnya lahirlah adik perempuan satu-satunya yang diberi nama Nyi Nanih. Sampai usia 10 tahun kedua orang tua Ene yang dipanggil dengan sebutan Ema dan Abah tidak pernah bercerita jika Ene mempunyai seorang kakak laki-laki yang diberi nama Eman. Menurut penuturan Ema dan Abah kakak Ene dititipkan  Abah di rumah saudaranya di kampung untuk bersekolah.

Baru pada usia 10 tahun  Kang Eman (kakak Ene)  oleh ibu angkatnya dikembalikan pada Abah dan Ema. Tujuannya untuk melanjutkan sekolah di Tanjungsari karena di kampung hanya ada sekolah desa. Akhirnya Kang Eman disekolahkan di Hollandsch Inlandsche School (HIS- maaf jika salah nulis). Kalau Ene dan adik  sekolah di di MVS ( Meyes Verlog School) dimana saat itu masih masa penjajahan Belanda.
Tahun 1941 Ene lulus dari MVS  di usia Ene masih 13 tahun. Abah menginginkan Ene jadi guru. Tapi untuk bisa masuk ke sekolah guru yang berada di Bandung harus sudah berusia minimal 15 tahun. Jadilah Ene disuruh mengulang lagi di kelas 6 sambil menunggu untuk bisa bersekolah di sekolah guru.

Disaat Ene dan saudara-saudaranya masih kecil keadaan ekonomi keluarga cukup baik. Abah bekerja sebagai pembuat bendo (penutup kepala yang biasa dipakai oleh para pria ). Bendo ini biasa dipakai oleh pegawai pemerintahan, Pegawai Negeri Sipil (PNS)  kalau jaman sekarang. Dengan baju setelan dan celana panjang sebagai pelengkapnya.  Untuk para wanitanya memakai kain batik dan kebaya.

Memasuki awal tahun 1942 datanglah orang-orang Jepang yang berniat untuk menjajah negeri ini. Sistem pendidikkanpun berbeda antara sistem pendidikan Belanda dan Jepang.  Saat bangsa Jepang berkuasa anak-anak sekolah setiap hari hanya diajarkan Kimigayo yaitu lagu kebangsaan Jepang dan Taiso. Taiso itu artinya olah raga yang diiringi musik dan lagu Jepang. Karena Ene orangnya kecil dan pendek sehingga seringkali diminta berdiri diatas meja untuk memberi contoh pada yang lainnya saat melakukan Taiso. Sementara yang menjadi komandannya sepupu Ene bi Ai, namanya.

Suasana saat itu tambah tidak nyaman karena setiap pergi ke sekolah, di jalanan banyak tentara lalu-lalang. Menurut kabar mereka itu para tentara bayaran. Kabar akan datangnya tentara Gurka yang sadis dan haus pada perempuan akhirnya membuat Abah mengambil keputusan untuk mengungsikan keluarga ke kampung yang lebih aman.  Kami semua mengungsi ke kampung dimana kakak Ene tinggal waktu kecil dulu.
Baru beberapa hari di kampung terdengar kabar jika kota Tanjungsari dijatuhi bom oleh tentara Jepang. Setelah kejadian itu Abah menyusul kami semua ke kampung dan meminta kami semua  kembali karena situasi Tanjungsari sudah kembali aman.

Saat kami tiba di Tanjungsari rumah Ene Alhamdulillah masih selamat. Namun tidak demikian dengan rumah saudara-saudara Ema semuanya hancur dan rata dengan tanah terkena jatuhan bom . 7 orang saudara Ema  menjadi korban saat bom dijatuhkan, diantaranya ada yang tengah hamil 7 bulan. Jika mengingat semua itu Ene sangat sedih.

Setelah Tanjungsari  dijatuhi bom oleh tentara Jepang keadaan ekonomi semakin sulit. Kain yang menjadi bahan baku Abah membuat bendo menghilang di pasaran, sehingga membuat usaha Abah terhenti. Keadaan ini akhirnya membuat Abah dan Ema memutuskan untuk pindah ke Cibeureum Sumedang, tempat kedua orang tua Abah tinggal. Mengingat saat itu orang tua Abah juga sudah mulai tua. Tetapi Kang Eman yang saat  masih bersekolah di sekolah pertanian tetap ditinggal di Tanjungsari. Kang Eman tinggal di asrama jadi menurut Abah cukup aman untuk ditinggalkan.

Selepas sholat subuh Ema, Ene dan adik Ene berangkat dari rumah di Tanjungsari menuju Cibeureum.  Kami  berjalan kaki karena waktu itu masih jarang kendaraan, Abah menyusul kemudian. Dijalanpun masih sangat sepi, sedih rasanya bila mengingat semua itu. ( sampai disini air mataku tidak berhenti mengalir membayangkan tiga orang wanita berjalan menempuh jarak kurang lebih15 Km dengan berjalan kaki di pagi buta untuk bisa menyelamatkan diri ) 

Keinginan Abah untuk bisa menyekolahkan Ene di sekolah guru akhirnya kandas setelah kejadian tersebut. Sehari-hari Ene hanya bermain di kebun, kadang mencari kayu bakar. Sementara Ema untuk membantu ekonomi keluarga  menerima jahitan baju,  menurut para tetangga jahitan Ema cukup enak dipakai. Suatu ketika ada seorang teman mengajak Ene untuk bekerja di pabrik tenun di Cimalaka. Alhamdulillah Ene dan teman yang mengajak bisa diterima bekerja di pabrik itu.

Tahun 1946 banyak pengungsi dari Bandung yang berdatangan ke Cibeureum. Diantara para pengungsi tersebut ada seorang pemuda bernama Wardi. Bekerja di pabrik yang sama dengan Ene sebagai portir (sekuriti). Sementara Ene ditempatkan sebagai tukang tenun. Pekerjaan sebagai tukang tenun tidak terlalu cape untuk Ene karena mesin tenunnya sudah menggunakan listrik. Di Pabrik tenun inilah awal perkenalan Ene dengan pemuda Wardi yang akhirnya menjadi suami Ene. 

Tahun 1947 Ene dan Apa (panggilanku untuk Bapak)  menikah. Beberapa minggu setelah menikah suasana mulai genting kembali. Pada saat itu bangsa Kolonial Belanda berniat untuk kembali menjajah Indonesia. Pabrik tenun tempat Apa dan Ene bekerja akhirnya ditutup setelah terdengar kabar jika pemilik pabrik ditembak oleh kolonial Belanda saat tengah mengontrol pabriknya.

Suasana saat itu semakin genting setiap rumah yang berada di pinggir jalan tidak luput dari pemeriksaan  oleh kolonial Belanda. Situasi ini akhirnya memaksa seluruh penghuni rumah untuk mengungsi ke kampung yang agak jauh dari jalan besar. Setelah keadaan mulai aman barulah Ene dan keluarga kembali lagi ke rumah.

Setelah pabrik ditutup otomatis tidak ada lagi pekerjaan untuk Apa. Keadaan ini membuat Apa belajar untuk berjualan beras demi menghidupi istri dan jabang bayi yang sudah mulai tumbuh di rahim Ene. Pada saat usia kandungan Ene memasuki usia kehamilan 7 bulan, adik perempuan Ene satu-satunya yang bernama Nanih menikah dengan seorang pemuda yang memiliki nama sama dengan kakak Ene yaitu Eman.

Apa (bapak) akhirnya memutuskan untuk pindah ke Bandung setelah merasakan jika hasil dari penjualan beras tidak mencukupi. Dengan niat mencari pekerjaan baru. Kebetulan saat itu keluarga Apa yang ikut mengungsipun sudah pulang kembali ke Bandung. Setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Mulyati ( biasa dipanggil Ua Ceuceu ), dan usia ua ceuceu memasuki 5 bulan Ene baru menyusul Apa ke Bandung. Mulanya Apa dan Ene mengontrak di Cicadas tapi baru satu bulan kami pindah ke Kiaracondong  karena di Cicadas sulit air. Kebetulan ada rumah yang mau di kontrakkan  dekat dengan rumah orang tua Apa.

Kisah hidup yang ditulis Ene terhenti sampai disini.   Setelah itu masih ada 12 orang anak lagi yang lahir dari rahim Ene dengan jarak 1 - 2 tahun. Ene belum sempat menyelesaikan tulisannya karena yang Maha Kuasa telah terlebih dulu memanggilnya pulang ke hadirat-NYA. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun............

Ya Rabb Yang Maha Rahman dan Rahim, kematian adalah suatu takdir tidak ada seorangpun yang bisa lepas bila sudah sampai waktunya tiba. Rasa perih itu masih belum hilang, namun aku bangga memiliki dua orang tua hebat seperti mereka. Pertemukanlah mereka kembali di surga-MU yang indah sebagai umat yang selalu menyebarkan dan mengajarkan kebaikan pada kami semua, Aamiin......Aamiin.......Ya Rabbal Allamin


Kebersamaan kami yg terakhir bersama ibunda Idul 1 syawal 1435 H




Kamis, 24 Oktober 2013

Sebait Rindu Yang Terpendam

" Saya hanya bisa tersenyum kecut dan menahan diri setiap kali mendengar teman-teman bercerita tentang cucu atau menantu mereka.  Mereka bisa bebas kapan saja bertemu cucu dan anak mantu. Adakalanya anak mantu dan cucu yang datang sendiri tanpa mereka minta. Sementara saya hanya bisa menemui cucu  jika sudah ada ijin dari ibunya yang tidak lain menantu saya " ucap seorang Ibu disebelahku.

Kami berada di satu ruangan yang sama , ruang periksa dokter di salah satu klinik. Didepan kami duduk  dua orang wanita yang satu berusia kira-kira tiga puluh tahunan dan satu lagi berkisar lima puluh tahunan. Seorang anak perempuan cantik, gemuk menggemaskan berusia sekitar tiga tahunan dengan rambut lurus dan berponi. Anak perempuan tersebut duduk menggelendot manja dipangkuan Ibu yang lebih tua. Belakangan baru  kutahu beliau neneknya karena sesekali si anak memanggilnya dengan sebutan Eyang dan memanggil Bunda pada perempuan yang lebih muda. Oh ! mereka tiga generasi Eyang, Anak dan Cucu. Terlihat mereka sangat bahagia, walaupun sang Bunda agak sayu matanya mungkin menahan rasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
Aku tengah memeriksakan diri untuk rasa pusing dan demam yang sudah tiga hari menyerang. Sementara Ibu disebelah mengaku merasa tidak nyaman dengan pencernaannya. " Saya iri melihat keakraban mereka, Bu " ucapnya lebih lanjut. Mereka begitu akrab, saling sayang dan saling peduli. Sementara saya untuk bertemu cucu semata wayang harus melalui aturan yang sempat membuat terhenyak. Ujarnya dengan nada yang mulai bergetar. Satu waktu saya datang mengunjungi mereka. Saya bawakan cucu  mainan yang dibeli dari uang yang dikumpulkan sebagai upah menjahit. Sesampainya dirumah mereka, tidak ada keceriaan apalagi terima kasih dari mantu. Mantu saya itu malah mengatakan " Bu, saya tidak pernah memberikan Dita mainan atau sesuatu jika dia belum menunjukkan prestasi yang membanggakan ". Apa saya salah memberikan sesuatu untuk cucu sendiri ? ucapnya dengan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Ada nada kepahitan yang tergambar dengan jelas dari nada bicaranya. Sekilas dilihatnya pasangan Ibu, anak dan cucu yang duduk didepan kami. Seulas senyum kepahitan menghias bibirnya yang tipis. Diambilnya sehelai sapu tangan dari dalam tas untuk menghapus air mata yang mulai menetes. Gurat-gurat kecantikan masih tergambar dengan jelas meskipun sudah mulai tampak garis-garis kerutan di wajahnya.

" Ibu Nourma Bambang " suara perawat memanggil pasien berikutnya. Ibu yang duduk disebelahku berdiri dan  langsung masuk kedalam ruang periksa. Ucapan terima kasih terucap dari bibirnya  karena telah menemani berbincang selama menunggu antrian didalam ruang tunggu klinik.

Ibu Nourma telah hilang dari pandanganku. Ingatanku melayang pada sebuah artikel tentang keluh kesah seorang Ibu yang merindukan anak dan cucu. Bertahun-tahun mereka terpisah setelah si anak memutuskan untuk menikah. Kabar pernikahan mereka hanya diperoleh lewat sambungan telepon tanpa mengundang mereka yang nota bene adalah orang tua kandungnya untuk menghadiri pernikahan. Dan setelah mereka menikah tidak pernah sekalipun datang berkunjung. Sekalinya orang tua ingin menemui mereka harus ada ijin atau minimal memberitahukan lewat telepon bahwa mereka akan datang. 

Ya Allah ! Ya Rabbi ! kupikir kejadian orang tua kesulitan untuk bertemu anak, cucu dan mantu hanya terjadi di belahan dunia barat. Kini di dalam negeri sendiri yang terkenal dengan sistem kekeluargaan yang erat dan kental  nilai-nilai itu sudah mulai bergeser. Gejala apa yang sudah terjadi sekarang ? nilai-nilai luhur yang sering diajarkan oleh orang tua dari jaman dulu kala untuk menghormati orang tua rupanya sudah mulai tergerus dan terpengaruh dunia barat.

Keluar dari ruang periksa dokter ada rasa sesak yang masih menggumpal. Kerinduan dan kehangatan pelukan seorang nenek untuk cucunya masih terasa. Rindu seorang Ibu/nenek yang tidak akan bisa terganti dengan segepok uang atau harta berlimpah. Karena kasih sayang hanya bisa tercurah dan dirasakan didalam hati. Bukan disebuah perjanjian.

" Untuk seorang Nenek yang merindukan cucunya "

Rabu, 29 Mei 2013

Ketika Seorang Model Berganti Pakaian

Seorang laki-laki dengan postur tubuh proporsional, kulit putih, tinggi dan tentu saja ganteng telah berdiri dihadapan saya dengan hanya mengenakan pakaian dalam dan siap menanti sentuhan tangan untuk didandani. Dia adalah model yang akan memperagakan pakaian hasil rancangan saya, dalam rangka memenuhi ujian akhir di salah satu sekolah fashion design dimana saya sebagai salah satu muridnya.

Sebuah  kejadian yang sempat membuat terkejut, panik dan tidak tahu harus berbuat apa, kembali menari-nari di pelupuk mata ketika menyaksikan acara Jakarta Fashion Week beberapa waktu yang lalu. Dan Zahra sibungsu, sepulang sekolah membawa undangan meminta ijin untuk mengikuti audisi sebagai foto model disalah satu mall.
Kejadian yang adakalanya membuat tersenyum sendiri bila mengingat semua itu'

Kira-kira 20 tahun yang lalu, saya gemar sekali mengikuti berbagai macam kursus dan keterampilan. Aneka kursus keterampilan saya ikuti, salah satunya belajar fashion design di salah satu sekolah design yang berada di Utara kota Bandung. Pelajaran pertama yang didapatkan  adalah membuat lingkaran/bulatan, dan garis lengkung berulang-ulang di lembaran-lembaran kertas lebar. Saya sendiri lupa berapa lembar yang harus dikerjakan. Sempat ada rasa bosan juga tidak tahu apa tujuan dari membuat lingkaran dan lengkungan seperti yang biasa dilakukan oleh murid Taman Kanak-Kanak. Baru belakangan saya ketahui bahwa tujuan dari semua itu untuk membuat tangan menjadi lebih lentur saat menggambar.
Sebenarnya saya tidak pandai menggambar, dengan mengikuti sekolah fashion design otomatis dituntut untuk   bisa menggambar. Menuangkan ide rancangan kedalam bentuk gambar perlu latihan keras bagi saya., apalagi menggambar manusia yang biasanya dijadikan sebagai model, padahal selama di sekolah nilai menggambar tidak pernah lebih dari tujuh. Untungnya menggambar untuk sebuah rancangan baju tidak perlu terlalu sempurna bentuk kaki, tangan dan juga muka, yang penting adalah rancangan pakaian yang akan dibuat bisa dimengerti dan dibaca dengan mudah.


Setelah berbulan-bulan mendapatkan banyak teori akhirnya tibalah pada saat terakhir yaitu ujian. Untuk ujian ini setiap siswa diwajibkan  membuat empat rancangan pakaian, yang terdiri dari pakaian pesta pria dan wanita, pakaian kerja dan pakaian  casual. Semua rancangan ini akan diperagakan dalam salah satu pagelaran busana oleh peragawan dan peragawati profesional. Semua model telah disiapkan oleh pihak sekolah,  dan  masing-masing siswa hanya diberi ukuran tubuh model sebagai ukuran baju. Masing-masing model dibuat dalam satu kelompok yang terdiri dari 4 orang. Dan siswa bebas memilih kelompok model mana yang akan dijadikan modelnya. Semua kebutuhan penunjang pakaian seperti aksesoris wajib disediakan oleh siswa. Tetapi untuk sepatu jika bukan sepatu khusus mereka para model itu akan membawa sepatu sendiri-sendiri. Kita hanya menentukan warna sepatu apa yang dibutuhkan untuk menunjang penampilan.  Untuk semua persiapan tersebut  kami hanya diberi waktu satu bulan kerja.

Akhirnya tibalah acara fashion show sebagai ujian akhir  yang diselenggarakan disebuah cafe, dengan dihadiri oleh para orang tua siswa dan beberapa desainer lokal sebagai penilai, yang akan menentukan kelulusan. Jadi yang menentukan kelulusan siswa bukan guru dari sekolah yang bersangkutan, melainkan para desainer yang memang sudah ahli dalam bidangnya.

Semua hasil rancangan para siswa sudah tergantung rapih di ruang ganti, para model juga sudah siap demikian juga seluruh undangan sudah hadir memenuhi ruangan. Sempat saya melihat sekeliling ruang ganti tidak ada sekat pemisah antara ruang ganti pria dan wanita, padahal bukankah ada model pria juga ? Melongok ruangan lainnya, ternyata memang cuma satu itu ruang gantinya. Bercampur jadi satu ruang ganti pria dan wanita. 

Setelah acara dimulai dan para model mulai sibuk mengenakan pakaian yang akan diperagakan dengan dibantu oleh perancangnya. Saya sempat terkejut dan sedikit shock melihat para model begitu turun dari panggung dan siap berganti dengan baju berikutnya. Mereka tanpa risih sedikitpun langsung membuka pakaian hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya dihadapan banyak orang. Tanpa ada rasa malu dan risih sedikitpun dibawah tatapan mata  semua yang hadir di ruangan itu. Heh ! kutarik nafas panjang dan mengelus dada.  Memang hanya ada sedikit waktu tersisa untuk para model itu berganti pakaian, sehingga mereka melakukan semua itu dengan cepat. Dan begitulah yang mereka lakukan setiap berganti pakaian, dari satu pakaian ke pakaian lainnya. Dari satu catwalk ke catwalk lainnya.

Seperti yang sudah diceritakan diatas tiba-tiba dihadapan sudah berdiri model pria yang siap mengenakan pakaian hasil rancangan saya. Sempat kaget dan tidak tahu harus berbuat apa, ini untuk pertama kalinya berdiri dihadapan saya seorang pria dengan hanya mengenakan pakaian dalam, dengan  jarak yang sangat dekat, siap menunggu sentuhan tangan untuk didandani. Saya cukup risih dengan keadaan tersebut karena saat itu status  masih single, dan kebanyakan saudara juga wanita sehingga situasi tersebut membuat sedikit rikuh.Walaupun pernah juga  melihat model pria dengan hanya mengenakan pakaian dalam disalah satu majalah, tetapi berhadapan langsung dengan seorang pria dalam jarak yang cukup dekat dengan hanya mengenakan pakaian dalam belum pernah saya alami. Tapi yang bersangkutan cuek saja karena mungkin itu  memang sudah menjadi pekerjaannya dan sudah biasa baginya sebagai seorang model. Sempat melirik teman yang  merancang pakaian muslim, dia lebih terlihat canggung. Apalagi yang bersangkutan sudah menutup auratnya dengan hijab.


Dunia fashion show memang masih baru untuk saya. Itulah satu-satunya fashion show yang saya ikuti, mengikuti acara fashion show sebagai salah satu syarat kelulusan. Alhamdulillah akhirnya mendapatkan nilai tertinggi dan mendapatkan penghargaan sebagai siswa terbaik. Dunia fashion show telah membuat saya sedikit terperangah dengan kebiasaan para model berganti pakaian,  tidak ada rasa risih sama sekali bagi mereka untuk membuka pakaian dihadapan banyak orang. Juga keharusan para perancang untuk mendandani para modelnya telah membuat saya terkejut dan terperangah. Pikiran nakal saya sempat muncul,  mungkinkah ini salah satu penyebab para desainer pria akhirnya memilih untuk tidak menikah, karena sudah terbiasa melihat bagian dalam tubuh wanita sebagai modelnya. Wallahuallam Bissawab.



Menutup aurat untuk wanita muslimah wajib hukumnya sehingga ketika Zahra sibungsu, meminta ijin untuk mengikuti audisi sebagai model cilik di salah satu mall saya keberatan. Masih terbayang bagaimana para model berganti pakaian, namun juga tidak ingin mematahkan rasa ingin tahu si bungsu. Akhirnya saya kembali membuka foto-foto lama ketika mengikuti ujian akhir di sekolah fashion design dan memberikan pengertian padanya tentang alasan ketidaksetujuan saya. Bercerita sesuai pemahamannya bagaimana para model itu berganti pakaian pada saat fashion show. Alhamdulillah akhirnya dia mengerti dengan penjelasan saya dan lebih memilih menari sebagai hobinya.